
Penggemar teater musikal selalu tertarik untuk mengintip tirai yang memisahkan panggung dari realitas di balik layar, terutama untuk produksi ikonik seperti "RENT: The Musical". Karya Jonathan Larson ini bukan hanya sekadar pertunjukan, tetapi juga sebuah fenomena budaya yang kaya akan sejarah dan proses kreatif yang mendalam.
"RENT" sendiri berawal dari ide dramawan Billy Aronson pada tahun 1988 untuk mengadaptasi opera klasik Giacomo Puccini, "La Bohème", ke latar New York modern. Jonathan Larson kemudian berkolaborasi dengan Aronson dan mengubah settingnya menjadi East Village kontemporer, dengan tujuan menciptakan musikal rock untuk "generasi MTV". Musikal ini menggambarkan perjuangan seniman muda yang miskin untuk bertahan hidup dan menciptakan karya di tengah bayang-bayang epidemi HIV/AIDS pada akhir 1980-an dan awal 1990-an.
Salah satu aspek yang paling mengharukan dari sejarah "RENT" adalah tragedi yang menimpa penciptanya. Jonathan Larson meninggal dunia secara mendadak karena diseksi aorta pada 25 Januari 1996, malam sebelum pertunjukan pratinjau Off-Broadway di New York Theatre Workshop. Kematian Larson yang tak terduga meninggalkan duka mendalam, namun para pemain dan kru memutuskan untuk melanjutkan pertunjukan sebagai bentuk penghormatan, sebuah keputusan yang didukung oleh keluarga Larson. Produksi ini kemudian dibuka secara resmi di Broadway di Nederlander Theatre pada 29 April 1996, dan segera mendapatkan pujian kritis, memenangkan empat Tony Awards, termasuk Musikal Terbaik, dan meraih Pulitzer Prize untuk Drama.
Di balik kesuksesan panggungnya, proses produksi "RENT" melibatkan kolaborasi intensif dari para seniman. Desain set, misalnya, dirancang untuk mencerminkan nuansa kotor dan berpasir dari East Village. Paul Clay adalah salah satu desainer set untuk produksi Broadway, dan konsep "taman bermain" untuk para karakter, serta proyeksi yang dilihat dari sudut pandang Mark, menjadi elemen kunci dalam beberapa produksi. Para desainer sering kali menggunakan struktur yang sudah ada dan menggabungkan elemen "nyata" untuk menciptakan suasana otentik.
Di sisi kostum, perancang busana asli "RENT", Angela Wendt, menarik inspirasi dari pengalaman hidupnya sendiri di East Village pada tahun 80-an dan 90-an. Ia menciptakan 68 kostum untuk 15 karakter utama, dengan pendekatan mendaur ulang potongan-potongan yang sudah ada dan menyesuaikannya dengan setiap aktor, sembari mempertahankan kesan "grit" atau kekasaran yang autentik. Dalam beberapa produksi modern, desainer seperti Allison Jones juga berusaha menghormati desain asli sambil memasukkan tren fesyen kontemporer, seperti gaya Y2K untuk latar waktu 1989-1990, untuk membuat pertunjukan lebih relevan bagi generasi muda. Kostum ikonik seperti gaun yang terbuat dari tirai shower untuk karakter Angel bahkan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas visual "RENT".
Proses kreatif juga melibatkan arahan Michael Greif sebagai sutradara asli Broadway, dan Stephen Oremus sebagai direktur musik untuk beberapa tur. Rehearsal dan kolaborasi antar tim sangat penting untuk mewujudkan visi Larson. Para aktor dan kru menghadapi tantangan untuk menghidupkan tema-tema berat seperti HIV/AIDS, kemiskinan, gentrifikasi, cinta, kehilangan, dan yang terpenting, filosofi "no day but today" (tidak ada hari selain hari ini). Tema-tema ini tetap relevan hingga saat ini, membuat "RENT" terus beresonansi dengan penonton lintas generasi.
Hingga saat ini, "RENT" terus diproduksi di berbagai belahan dunia, termasuk tur perpisahan peringatan 25 tahun, dan produksi lokal di Indonesia pada tahun 2022 oleh Teater Musikal Nusantara. Setiap produksi baru berusaha memberikan "sentuhan segar" sambil tetap setia pada semangat asli "RENT", memastikan bahwa cerita tentang komunitas, keluarga yang ditemukan, dan perjuangan untuk hidup sepenuhnya terus menginspirasi penonton baru.