Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Gilang Dirga Kenang Ayah: Sosok Tegar yang Tak Pernah Mau Terlihat Lemah

2025-12-31 | 15:06 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-31T08:06:45Z
Ruang Iklan

Gilang Dirga Kenang Ayah: Sosok Tegar yang Tak Pernah Mau Terlihat Lemah

Presenter dan aktor Gilang Dirga belum lama ini mengungkapkan pujian mendalam untuk mendiang ayahnya, Ganda Murdana, yang meninggal dunia pada 10 Agustus 2021 lalu, menyebutnya sebagai "laki-laki hebat" yang enggan menunjukkan kelemahan di hadapan publik. Pernyataan tersebut, yang dilontarkan Gilang dalam berbagai kesempatan wawancara, menyoroti kompleksitas identitas maskulin dan dinamika relasi ayah-anak dalam sorotan media.

Murdana, ayah kandung Gilang Dirga, diketahui meninggal dunia akibat komplikasi penyakit pada usia 65 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, yang kerap dibagikan Gilang melalui platform media sosialnya, Instagram. Gilang secara konsisten menggambarkan sang ayah sebagai sosok yang pekerja keras, bertanggung jawab, dan memiliki prinsip kuat, bahkan dalam menghadapi kesulitan pribadinya. "Dia itu laki-laki hebat, dia gak mau terlihat lemah sama sekali," ujar Gilang, menambahkan bahwa ayahnya selalu berusaha untuk tampil tegar di hadapan keluarga.

Refleksi Gilang terhadap ayahnya ini mencerminkan narasi umum di banyak budaya, termasuk Indonesia, di mana pria seringkali didorong untuk memendam emosi dan menampilkan kekuatan tanpa celah. Sosiolog budaya, Dr. Retno Wulandari dari Universitas Indonesia, dalam sebuah seminar daring mengenai maskulinitas toksik pada tahun 2023, pernah menyatakan bahwa ekspektasi sosial terhadap pria untuk selalu kuat dan tidak rentan dapat berdampak signifikan pada kesehatan mental dan kualitas hubungan interpersonal mereka. Meskipun demikian, pengungkapan publik oleh selebriti seperti Gilang Dirga, yang memilih untuk membagikan sisi personal dan menghargai "kekuatan dalam ketegaran" ayahnya, dapat memicu diskusi lebih luas mengenai bagaimana publik menginterpretasikan dan merayakan figur ayah di era modern.

Secara historis, figur ayah di Indonesia seringkali diidentikkan dengan kepala keluarga yang menjadi tulang punggung finansial dan pemberi keputusan utama, seringkali dengan sedikit ruang untuk ekspresi emosi yang dianggap "lemah". Dengan Gilang Dirga memilih untuk menggarisbawahi kekuatan sang ayah melalui ketidaksediaannya menunjukkan kelemahan, ia secara tidak langsung turut memperkuat citra maskulinitas tradisional yang, dalam beberapa interpretasi, bisa dianggap problematis namun di sisi lain merupakan bentuk penghargaan personal. Pernyataan semacam ini dari figur publik dapat berimplikasi pada cara audiens, khususnya generasi muda, memahami dan meneladani peran ayah, menyeimbangkan antara idealisme ketegaran dengan kebutuhan akan validasi emosional.

Pengakuan Gilang Dirga ini juga membuka diskusi tentang bagaimana selebriti menggunakan platform mereka untuk memproses dan berbagi duka, sekaligus memberikan penghormatan personal kepada anggota keluarga yang telah tiada. Ini bukan sekadar deskripsi seorang anak tentang ayahnya, tetapi sebuah komentar tentang norma maskulinitas yang berlaku, serta dampaknya pada cara individu memandang kekuatan dan kerapuhan dalam diri.