Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Fobia Terbang Kenzy Taulany: Puncak Jadi Destinasi Liburan Andalan

2025-12-23 | 01:59 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-22T18:59:14Z
Ruang Iklan

Fobia Terbang Kenzy Taulany: Puncak Jadi Destinasi Liburan Andalan

Kenzy Taulany, putra dari komedian Andre Taulany, memilih Puncak sebagai destinasi liburan akhir tahunnya bersama keluarga, menolak opsi perjalanan udara karena ketidaknyamanan yang signifikan saat menaiki pesawat. Keputusan ini, yang diungkapkan pada 22 Desember 2025, menyoroti tantangan yang dihadapi individu, termasuk figur publik, akibat fobia atau ketidaknyamanan dalam bepergian dengan pesawat terbang.

Kenzy secara eksplisit menyatakan, "Aku gak suka pesawat soalnya, mabok," menjelaskan bahwa ia sering mengalami mabuk perjalanan saat terbang. Ia merasa lebih nyaman menghabiskan waktu libur di tempat yang mudah dijangkau melalui jalur darat. Selain itu, ia juga mempertimbangkan jadwal sang kakak, Dio, yang akan kembali beraktivitas pada awal Januari, sehingga membatasi durasi liburan panjang. Pemilihan Puncak untuk berlibur menggarisbawahi preferensi perjalanan darat yang kini menjadi pilihan utama bagi keluarga Taulany.

Ketakutan atau ketidaknyamanan berlebihan saat bepergian dengan pesawat dikenal sebagai aviophobia atau aerophobia, sebuah fobia spesifik yang cukup umum. Kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, termasuk rasa takut akan ketinggian (acrophobia), ruang sempit (claustrophobia), pengalaman traumatis sebelumnya, atau bahkan paparan berita mengenai kecelakaan pesawat. Gejala yang umum dialami penderita aviophobia meliputi kecemasan, pusing, keringat berlebihan, mual, jantung berdebar, hingga sesak napas.

Menurut Dr. Rebecca Hoffenberg, seorang psikolog klinis, tubuh membentuk pola respons terhadap pesawat terbang yang dikaitkan dengan kecemasan, meskipun secara rasional individu tahu bahwa terbang adalah bentuk perjalanan yang aman. Prevalensi fobia spesifik secara global diperkirakan antara 7,7% hingga 12,5% seumur hidup. Di negara-negara Asia, angka ini cenderung lebih rendah, sekitar 2% hingga 4%, dibandingkan dengan Amerika dan Eropa. Meskipun data spesifik untuk aviophobia di Indonesia belum tersedia, Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 mencatat prevalensi gangguan cemas di Indonesia sebesar 6%.

Psikolog dan psikiater menyarankan berbagai pendekatan untuk mengatasi aviophobia, termasuk terapi perilaku kognitif (CBT), hipnoterapi, teknik relaksasi, serta upaya memahami cara kerja pesawat dan mekanisme turbulensi. Mengalihkan perhatian dengan membaca buku atau mendengarkan musik juga dapat membantu mengurangi kecemasan selama penerbangan.

Fenomena Kenzy Taulany ini bukan hal baru di kalangan selebriti Tanah Air. Beberapa figur publik lainnya, seperti Sophia Latjuba dan Olla Ramlan, juga diketahui memiliki fobia terbang dan sering memilih moda transportasi darat untuk perjalanan domestik mereka. Sophia Latjuba bahkan pernah mencarter bus untuk perjalanan ke Bali dan mengaku tidak keluar Pulau Jawa selama sepuluh tahun karena fobia ini. Pilihan perjalanan darat yang konsisten oleh figur publik seperti Kenzy Taulany dapat secara tidak langsung memperkuat citra destinasi domestik yang dapat diakses melalui jalur darat, serta menyoroti pentingnya aksesibilitas dalam industri pariwisata.