
Film "Believe: Takdir, Mimpi, Keberanian" telah melampaui satu juta penonton di bioskop Indonesia, mencapai 1.032.178 penonton pada 21 Agustus 2025, menempatkannya sebagai film ke-11 yang meraih pencapaian ini pada tahun 2025 sekaligus menjadi salah satu film perang terlaris dalam sejarah sinema nasional. Kesuksesan komersial ini diiringi respons emosional yang mendalam, terutama dari para veteran militer dan anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) yang menghadiri penayangan khusus di Jakarta pada 18-19 Agustus 2025, bertepatan dengan perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-80. Banyak dari mereka, yang pernah mengalami langsung realitas medan perang, terlihat menitikkan air mata, menunjukkan resonansi kuat antara narasi film dan pengalaman hidup mereka.
Film yang disutradarai oleh Rahabi Mandra dan Arwin Tri Wardhana ini mengisahkan perjuangan Agus (diperankan Ajil Ditto), seorang pemuda yang bertekad mengikuti jejak ayahnya, Serka Dedi (diperankan Wafda Saifan), seorang veteran Operasi Seroja 1975 yang harus kehilangan tangan kirinya dalam misi tersebut. Konflik batin Agus dalam memahami pengorbanan dan trauma yang dialami sang ayah, serta perjuangannya sendiri di medan perang dan kehidupan pribadi, menjadi inti cerita. Produser Celerina Judisari dari Bahagia Tanpa Drama Pictures menegaskan bahwa di balik 70 persen adegan laga spektakuler, "Believe" menyimpan kisah humanis yang mendalam tentang hubungan ayah dan anak serta pengorbanan di medan perang yang kerap tidak dipahami oleh keluarga.
Kolonel (Purn) Ronny Muaway, veteran Operasi Seroja 1975 yang hadir dalam penayangan khusus, mengungkapkan perasaannya setelah menonton. Ia menyatakan, "Saya terkena ranjau, juga sempat kena tembakan. Menonton Believe membuat saya kembali mengingat semuanya. Film ini begitu nyata." Kesaksian ini menggarisbawahi upaya tim produksi untuk menghadirkan sinematografi berstandar tinggi dan adegan pertempuran yang realistis, sebuah klaim yang juga diakui oleh para kritikus internasional dengan diberikannya penghargaan "Best Director" di Montreal International Film Festival 2025 kepada Rahabi Mandra dan Arwin Tri Wardhana. Seorang veteran dari Batalyon 502 juga berbagi kisah haru tentang meninggalkan anak bayinya untuk bertugas di Timor Timur dan tidak dikenali saat kembali dari perang, sebuah pengalaman yang ia rasakan terwakili dalam film. Sementara itu, anggota Paskibraka seperti Alika Zea Chanidya dari Sulawesi Tenggara mengaku menangis teringat ayahnya yang meninggal saat ia menjalani pelatihan Paskibraka, dan Faisal Kurniawan dari Yogyakarta merasa film ini adalah "pelajaran hidup" yang menyadarkan nilai perjuangan generasi sebelumnya.
Pencapaian "Believe" bukan sekadar sukses komersial, melainkan juga menyoroti relevansi kisah perjuangan dan patriotisme bagi generasi kini, sebagaimana diutarakan oleh produser Celerina Judisari. Keberhasilan film ini dalam menarik lebih dari satu juta penonton juga membuka peluang bagi pengembangan genre laga-drama perang di industri perfilman Indonesia. Produser berharap minat investor dan sineas terhadap genre ini akan meningkat, mendorong produksi film-film berkualitas serupa yang dapat memberikan pengalaman sinematik yang beragam dan mendalam bagi penonton Indonesia.