Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Fajar Nugra, Sadana Agung, dan Radhika Djamil: Terjepit Keuangan, Ini Kisah Mereka

2025-12-25 | 05:42 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-24T22:42:29Z
Ruang Iklan

Fajar Nugra, Sadana Agung, dan Radhika Djamil: Terjepit Keuangan, Ini Kisah Mereka

Fajar Nugra, Sadana Agung, dan Radhika Djamil, tiga nama familiar di kancah komedi dan perfilman Indonesia, baru-baru ini secara terbuka membagikan pengalaman pribadi mereka menghadapi krisis finansial, menyoroti realitas ekonomi yang kerap bergejolak di balik gemerlap industri hiburan. Pengakuan ini muncul di tengah promosi film horor-komedi terbaru mereka, Warung Pocong, yang ironisnya juga mengangkat kisah tiga pemuda yang terjerat masalah keuangan.

Fajar Nugra, aktor dan komika, menceritakan titik terendah kehidupannya terjadi saat pandemi COVID-19 melanda, menyebabkan seluruh jadwal pekerjaan dibatalkan dan pemasukannya terhenti total. Ia mengingat pernah hanya memiliki Rp 8.000 di dompetnya. "Untungnya masih tinggal sama orang tua, jadi enggak sampai kelaparan," kata Fajar di Jakarta. Desakan kebutuhan ini bahkan sempat mendorongnya terjerumus dalam pinjaman online (pinjol), sebuah keputusan yang sangat disesalinya. "Itu benar-benar bikin hidup enggak tenang. Rasanya kayak dikejar-kejar sesuatu tiap hari. Begitu ada rezeki, pinjol langsung dilunasi tanpa pikir panjang. Kapok? Iya, iya banget," tuturnya. Demi bertahan, Fajar bahkan rela menjual koleksi sepatu Converse kesayangannya. Di kesempatan lain, Fajar juga pernah meminjam uang Rp 38 juta kepada sesama komika, Indra Jegel, akibat musibah yang menimpanya.

Sementara itu, Radhika Djamil, komika dan penyiar radio, mengenang tahun 2018 sebagai masa sulit ketika ia hidup tanpa penghasilan. Ia harus memenuhi kebutuhan biaya kos dan mengirim uang ke keluarga di Bandung. Dalam menghadapi kondisi terdesak tersebut, Radhika menganjurkan untuk tidak mencari jalan pintas, melainkan mencoba membuka obrolan dengan orang terdekat atau menjual barang yang dimiliki. Ia juga pernah menyebut gaji siaran pertamanya sebesar Rp 1.500.

Sadana Agung, finalis Stand Up Comedy Indonesia Kompas TV musim keenam, juga berbagi pengalaman pahitnya. Ia bercerita tentang masa kecilnya ketika harus menjual penghapus untuk ongkos pulang sekolah karena uang jajan habis. "Jualan setip (penghapus) buat ongkos pulang sih udah paling aneh," ujarnya sambil tertawa. Kreativitas darurat ini berlanjut hingga dewasa, ketika ia pernah menjadi joki skripsi demi mendapatkan uang untuk membeli barang yang diincarnya. Sadana dikenal memiliki latar belakang yang sederhana, berasal dari desa dan kerap mengangkat materi komedi tentang kehidupannya.

Pengalaman ketiga seniman ini menggarisbawahi kerapuhan finansial yang dihadapi banyak pekerja seni di Indonesia, terutama mereka yang berstatus independen atau freelancer. Industri film dan televisi, meskipun terus berkembang, dihadapkan pada tantangan finansial yang kompleks, termasuk pendapatan yang fluktuatif dan pengelolaan keuangan yang tidak konsisten. Pandemi COVID-19 secara khusus memperparah kondisi ini, menyebabkan penundaan produksi, pembatalan proyek, dan hilangnya sumber penghasilan bagi banyak pekerja seni.

Kesenjangan ekonomi di dalam industri juga menjadi tantangan signifikan, di mana produksi konten berkualitas tinggi menuntut sumber daya finansial substansial. Pembuat konten independen atau yang berasal dari latar belakang ekonomi kurang mendukung seringkali kesulitan mendapatkan dana yang diperlukan untuk merealisasikan visi kreatif mereka. Selain itu, kurangnya pemahaman tentang kewajiban perpajakan dan manajemen keuangan yang tidak terstruktur juga dapat meningkatkan risiko ketidakpatuhan atau kesulitan dalam mengelola pendapatan yang tidak tetap. Kondisi ini mendorong perbankan seperti Amar Bank untuk menghadirkan solusi keuangan digital guna membantu pelaku ekonomi kreatif mengelola arus kas dan anggaran secara lebih terukur dan transparan.

Kisah Fajar Nugra, Sadana Agung, dan Radhika Djamil tidak hanya menjadi anekdot pribadi, melainkan cerminan dari tantangan struktural yang terus membayangi pekerja seni di Indonesia. Fluktuasi pendapatan, minimnya jaring pengaman sosial, dan perubahan dinamika industri, terutama dengan munculnya platform digital, menuntut para seniman untuk tidak hanya piawai dalam berkarya, tetapi juga adaptif dalam mengelola finansial dan mencari beragam sumber penghasilan. Tanpa dukungan ekosistem yang lebih kuat—baik dari segi regulasi, edukasi keuangan, maupun akses pembiayaan—kasus "kepepet butuh uang" kemungkinan akan terus menjadi narasi yang akrab bagi banyak talenta di industri hiburan Tanah Air.