
Aktris Faby Marcelia baru-baru ini secara terbuka mengungkapkan perjuangannya sebagai orang tua tunggal, mengakui bahwa ia sering mencari kesendirian di kamar mandi untuk menangis. Tindakan ini, yang diungkapkannya dalam sebuah wawancara di Studio Rumpi: No Secret TTV pada Selasa (30/12/2025), bertujuan untuk menyembunyikan kesedihan dan kelelahannya dari anak-anaknya serta orang tuanya, demi menjaga citra kuat sebagai seorang ibu dan tulang punggung keluarga. Pernyataan ini mencerminkan dilema universal yang dihadapi banyak orang tua, terutama ibu tunggal, dalam menyeimbangkan kebutuhan emosional pribadi dengan ekspektasi sosial untuk selalu tegar.
Faby Marcelia, yang telah bercerai dengan Revand Narya, kini membesarkan dua anaknya, Gallardo Igneel Magnelo Narya dan Grandine Benedita Fiorano Narya. Kehidupan sebagai orang tua tunggal menuntutnya bekerja keras untuk menafkahi anak-anaknya, bahkan sering kali membawa mereka ke lokasi syuting karena tidak ada kepikiran untuk diri sendiri. Perasaan bersalah dan kekhawatiran mendalam melingkupinya, terutama saat putrinya, Nona, sempat dilarikan ke rumah sakit di Bandung karena tipes. Faby harus menempuh perjalanan dini hari dari Jakarta ke Bandung hanya untuk dua jam pertemuan sebelum kembali mengejar jadwal syuting di Jakarta. Situasi ini menyoroti tekanan ekstrem yang dialami Faby, yang harus menghadapi tuntutan pekerjaan sekaligus berperan ganda sebagai ibu dan ayah.
Fenomena orang tua, khususnya ibu, yang menyembunyikan kesedihan mereka dari anak-anak bukanlah hal baru. Meskipun naluri melindungi anak dari kesedihan adalah wajar, para ahli psikologi sering kali menawarkan perspektif yang berbeda. Psikolog anak Dra. Setyani Ambarwati, M. Psi., menyatakan bahwa orang tua boleh saja menangis di hadapan anak, asalkan tidak berlebihan, karena emosi yang berlebihan dapat menimbulkan rasa takut, cemas, atau kesedihan pada anak. Nancy S. Buck, seorang pakar perilaku manusia dan psikolog, menegaskan bahwa menangis adalah ekspresi emosi manusia yang normal, dan menunjukkan emosi ini di depan anak dapat mengajarkan mereka bahwa semua orang bisa merasa sedih, serta membantu mereka untuk tidak memendam perasaannya. Anak-anak yang melihat orang tuanya menangis dapat belajar untuk mengidentifikasi nuansa emosi mereka sendiri dan melihat orang tua sebagai model dalam mengekspresikan emosi dengan tepat. Namun, penting bagi orang tua untuk menjelaskan alasan di balik tangisan mereka dengan cara yang sederhana agar anak tidak merasa bersalah atau berpikir bahwa mereka adalah penyebab kesedihan tersebut.
Kesehatan mental ibu telah menjadi isu krusial. Penelitian menunjukkan sekitar 1 dari 3 ibu di Jakarta mengalami tekanan psikis akibat faktor ekonomi, sosial, dan tuntutan peran ganda. Jika tekanan ini tidak ditangani, dapat berujung pada stres berkepanjangan, burnout, hingga gangguan kesehatan mental serius. Dinas Pemberdayaan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) DKI Jakarta bahkan menekankan pentingnya dukungan keluarga dalam menjaga kesehatan mental ibu, mengingat kondisi psikis ibu memengaruhi kualitas pengasuhan dan keharmonisan keluarga. Pengakuan Faby Marcelia ini menggarisbawahi urgensi untuk menciptakan lingkungan yang lebih suportif bagi para ibu, baik di kalangan selebriti maupun masyarakat umum, agar mereka tidak merasa perlu memikul beban emosional sendirian demi tampil "kuat" di depan anak-anak. Ini juga memicu diskusi lebih lanjut tentang bagaimana masyarakat dapat mengurangi stigma terhadap kerentanan emosional orang tua, dan memfasilitasi akses terhadap dukungan psikologis yang diperlukan. Beberapa selebriti lain di Indonesia seperti Marshanda dan Rachel Vennya juga telah secara terbuka membahas perjuangan mereka dengan kesehatan mental, membantu menormalisasi percakapan seputar isu ini.