
Jakarta, Indonesia – Aktris dan mantan penyanyi cilik Enno Lerian, bersama suaminya, Priambodo Soesetyo, baru-baru ini mengungkapkan fondasi utama yang menjaga keharmonisan rumah tangga mereka selama 14 tahun. Keduanya secara lugas menyatakan bahwa "penerimaan" terhadap kekurangan dan perbedaan masing-masing pasangan menjadi kunci vital dalam menjaga kelanggengan hubungan. Pernyataan ini disampaikan saat mereka ditemui di Studio Trans TV, Mampang, Jakarta Selatan, pada Senin (22/12/2025).
Priambodo Soesetyo menjelaskan, pengalaman pahit dari kegagalan rumah tangga sebelumnya menjadi pelajaran berharga yang membentuk perspektif mereka saat ini. Ia menuturkan bahwa perceraian seringkali berakar dari ketidakmampuan untuk menerima ketidaksempurnaan pasangan. Fokus berlebihan pada kekurangan hanya akan memicu konflik, sehingga mereka memilih untuk berdamai dengan perbedaan yang ada, bahkan dalam hal sepele seperti cara memencet pasta gigi.
Pernikahan Enno dan Priambodo yang dilangsungkan pada 30 Juli 2011, menandai babak baru bagi keduanya setelah sama-sama pernah mengalami perceraian. Perjalanan mereka tidak lepas dari tantangan penyesuaian di awal pernikahan, mengingat perbedaan karakter dan pengalaman hidup. Enno, yang kini berusia 42 tahun, dan Priambodo, 50 tahun, menegaskan bahwa perbedaan usia delapan tahun bukanlah hambatan berarti.
Kisah Enno Lerian dan Priambodo Soesetyo memberikan gambaran realistis tentang dinamika pernikahan, terutama bagi figur publik yang kerap disorot. Penekanan mereka pada penerimaan dan saling melengkapi, alih-alih menuntut kesempurnaan, menawarkan perspektif berharga. Hal ini menunjukkan bahwa resilience dan kemauan untuk belajar dari masa lalu merupakan elemen krusial dalam membangun kemitraan yang langgeng.
Analisis mendalam ini relevan bagi pembaca karena menyoroti pentingnya fondasi emosional yang kuat dalam suatu hubungan, melampaui citra sempurna yang seringkali disajikan media. Implikasinya di masa depan dapat memperkaya diskursus publik mengenai pernikahan, mendorong narasi yang lebih autentik tentang tantangan dan solusi nyata, serta menginspirasi individu untuk berinvestasi pada kualitas penerimaan dalam hubungan personal mereka. Pernikahan bukan sekadar penyatuan dua individu, melainkan proses adaptasi dan kompromi berkelanjutan yang membutuhkan kematangan emosional dari kedua belah pihak.