
Penyanyi Marcello Tahitoe, dikenal sebagai Ello, menyajikan tribut emosional kepada mendiang ibundanya, Diana Nasution, dengan membawakan lagu hit legendaris "Benci Tapi Rindu" dalam sebuah panggung intim di De Concert Room, Deheng House, Kemang, Jakarta Selatan, pada Jumat, 26 September 2025. Penampilan ini, bagian dari acara "Collab Generation", secara gamblang mengekspresikan kerinduan mendalam Ello terhadap sosok sang ibu yang telah tiada, sekaligus menyoroti peran musik sebagai medium katarsis.
Momen tersebut sarat makna, mengingat Diana Nasution adalah ikon musik pop Indonesia era 1970-an dan 1980-an, yang meninggal dunia pada 4 Oktober 2013, di usia 55 tahun, setelah berjuang melawan penyakit lambung dan sebelumnya kanker payudara. Ello sendiri hadir menemani ibunya hingga detik-detik terakhir di Rumah Sakit Gading Pluit, Jakarta Utara, bahkan sempat menyanyikan lagu gereja kesukaan sang ibunda. "Pengalaman yang enggak bisa dilupakan seumur hidup saya. Dia meninggal di depan wajah saya," ujar Ello kala itu, menambahkan bahwa ibunya tampak damai tanpa kesakitan. Sebelum kepergian ibunya, Ello juga pernah berjanji untuk menjadi pribadi yang lebih baik. "Saya bisikin mama, 'Saya janji jadi lebih baik, Ma'," ungkap Ello.
Di atas panggung Deheng House, Ello mengawali pertunjukan dengan sebuah pernyataan sederhana namun penuh resonansi, "Habis ini nyanyiin lagu ibu gue kali ya." Begitu intro "Benci Tapi Rindu" menggema, penonton sontak bersorak riuh, larut dalam gelombang nostalgia yang diciptakan oleh melodi dan lirik gubahan Rinto Harahap tersebut. Lagu ini, yang juga pernah diaransemen ulang oleh Ello pada tahun 2010 dalam album kompilasi "The Masterpiece Of Rinto Harahap", menggambarkan pergolakan batin antara rasa sakit hati dan kerinduan terhadap seseorang yang perilakunya menyakitkan. Interpretasi Ello terhadap karya ibunya ini bukan sekadar penampilan ulang, melainkan sebuah dialog artistik pribadi yang menembus batas waktu, membuktikan bagaimana warisan musikal dapat menjadi jembatan penghubung emosional antar generasi.
Dalam konteks yang lebih luas, penampilan Ello ini menggarisbawahi bagaimana seniman seringkali menggunakan karyanya sebagai wahana untuk memproses dan mengungkapkan duka. Riset semiotika terhadap lagu-lagu bertema ibu di Indonesia menunjukkan nilai-nilai mendalam mengenai relasi anak dan ibu, termasuk sosok ibu sebagai pelindung dan harapan seorang anak. Kasus serupa terlihat pada lagu-lagu yang membantu pendengar melewati lima tahapan duka, seperti yang dianalisis dalam lagu "Gala Bunga Matahari" karya Sal Priadi. Bagi Ello, yang kehilangan figur idola dan pahlawannya, musik Diana Nasution tampaknya menjadi saluran ekspresi yang krusial. "Saya sedih sekali kehilangan figur yang menjadi idola saya, pahlawan saya," tutur Ello pasca kepergian ibunya.
Pilihan Ello untuk membawakan lagu ini di panggung intim seperti Deheng House juga memiliki implikasi terhadap ekosistem musik lokal. "Jakarta itu selalu membutuhkan function hall yang memang proper," kata Ello, berharap tempat tersebut dapat menjadi rumah bagi para musisi ibu kota dan melahirkan pertunjukan legendaris. Amelia Mailowa, Direktur Utama Deheng House, membenarkan bahwa tempatnya didedikasikan sebagai wadah musisi berkumpul dan bermusik, dengan program musik harian. Ini menunjukkan bahwa panggung-panggung seperti Deheng House tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga ruang vital bagi eksplorasi artistik dan ekspresi emosional yang mendalam, seperti yang ditunjukkan Ello dalam menumpahkan kerinduannya.