
Aktor senior Diding Boneng, dengan nama asli Zainal Abidin Zetta, mengalami musibah besar ketika rumah tinggalnya di kawasan Matraman Dalam, Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat, ambruk pada Minggu, 28 Desember 2025, sekitar pukul 21.00 WIB. Bangunan berusia lebih dari satu abad yang menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya itu luluh lantak, diduga kuat akibat struktur yang telah lapuk termakan usia dan diperparah oleh cuaca ekstrem berupa hujan deras dan angin kencang yang melanda wilayah tersebut sebelumnya. Insiden ini, yang nyaris menimpa putranya yang tengah tertidur, kini memaksa Diding Boneng dan keluarganya mengungsi sementara di kantor RW setempat.
Rumah yang telah ditempati Diding Boneng selama 75 tahun sejak kelahirannya ini memiliki nilai historis dan sentimental yang tak ternilai. Ia menjelaskan bahwa rumah tersebut merupakan warisan turun-temurun dari kakeknya, yang telah berdiri bahkan sebelum orang tuanya membangun rumah tangga. Kerusakan paling parah terjadi pada bagian tengah hingga belakang rumah, mencakup area dapur dan kamar mandi, sementara atap juga mengalami kehancuran total. Meskipun tidak ada korban jiwa, kejadian ini meninggalkan duka mendalam bagi aktor yang terkenal lewat peran-peran komedi di film Warkop DKI dan serial televisi "Rumah Masa Depan" itu.
Pemerintah Kota Jakarta Pusat melalui Kepala Satpol PP Kecamatan Menteng, Hendra, telah mengonfirmasi peristiwa tersebut dan menyebut cuaca buruk sebagai pemicu utama ambruknya bangunan tua itu. Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) dan perangkat lingkungan seperti RT dan RW segera bergerak cepat membersihkan puing-puing dan menyalurkan bantuan sosial kepada keluarga Diding Boneng. Ketua RT setempat, Giman, mendengar suara dentuman keras sekitar pukul sembilan malam dan kemudian menerima laporan dari adik Diding Boneng bahwa rumah tersebut ambruk. Diding Boneng sendiri mengakui adanya kelalaian dalam memantau dan merenovasi kondisi kayu penyangga rumah yang sudah rapuh, menyatakan rasa bersalah karena terlalu santai dan menunda perbaikan.
Kejadian ini menyoroti kerentanan infrastruktur lama di tengah dinamika perkotaan Jakarta yang padat dan semakin seringnya menghadapi fenomena cuaca ekstrem. Kasus Diding Boneng menggambarkan bagaimana bangunan-bangunan tua, meskipun menyimpan nilai sejarah dan kenangan, dapat menjadi ancaman serius jika tidak mendapatkan perhatian dan pemeliharaan yang memadai. Insiden ini juga mengangkat pentingnya kesadaran pemilik rumah dan pihak berwenang mengenai inspeksi rutin serta standar keselamatan bangunan, terutama di wilayah yang padat penduduk dan rawan terhadap dampak perubahan iklim. Implikasi jangka panjang bagi Diding Boneng mencakup tantangan pemulihan fisik dan psikologis bagi keluarganya, di samping beban finansial untuk membangun kembali tempat tinggal yang layak. Dukungan komunitas dan pemerintah menjadi krusial dalam membantu proses ini, sekaligus menjadi pengingat bagi kota-kota besar untuk memperketat regulasi pemeliharaan bangunan bersejarah atau berusia tua.