Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Dibalik Layar Keisya Levronka: 13 Jam Basah Kuyup Demi Syuting Totalitas

2025-12-28 | 18:42 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-28T11:42:28Z
Ruang Iklan

Dibalik Layar Keisya Levronka: 13 Jam Basah Kuyup Demi Syuting Totalitas

Penyanyi dan aktris Keisya Levronka mengungkapkan pengalaman berat saat menjalani syuting film horor "Pamali: Tumbal" di Bandung, yang mengharuskannya basah kuyup selama 13 jam untuk sebuah adegan singkat. Kejadian ini, yang diungkapkannya dalam konferensi pers pada 29 Juli 2025, menyoroti tekanan fisik dan mental yang kerap dihadapi para pelaku industri hiburan demi tuntutan produksi.

Adegan yang dimaksud, di mana Keisya berperan sebagai Putri, karakter yang berulang kali harus masuk ke dalam air, pada akhirnya hanya tampil selama dua hingga tiga menit di layar. Namun, untuk mencapai kontinuitas visual, ia harus terus-menerus dibasahi, masuk dan keluar kolam berkali-kali, bahkan hingga sepuluh kali, di tengah dinginnya suhu Bandung dari malam hingga pagi hari. "Aku sampai sudah di tahap 'harus kayak ginikah nyari duit?'," ujarnya, mencerminkan kelelahan ekstrem yang dirasakan. Film "Pamali: Tumbal" sendiri dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia pada 7 Agustus 2025.

Pengalaman Keisya Levronka ini bukan insiden tunggal dalam industri perfilman yang acapkali menuntut dedikasi fisik di luar batas normal. Meskipun jam kerja standar dalam banyak sektor industri dibatasi oleh regulasi ketenagakerjaan, industri kreatif, termasuk film dan televisi, seringkali beroperasi dengan jadwal yang sangat fleksibel dan intensif, terutama saat produksi lapangan. Hal ini dapat menimbulkan pertanyaan mengenai keseimbangan antara artistik dan kesejahteraan pekerja. Tekanan untuk menghasilkan konten berkualitas tinggi dalam anggaran dan jadwal yang ketat seringkali mendorong tim produksi untuk bekerja melebihi jam normal, berisiko terhadap kesehatan fisik dan mental para kru dan pemeran. Diskusi mengenai standar jam kerja yang lebih manusiawi dan dukungan kesehatan mental bagi para pekerja film telah lama menjadi isu penting di tingkat global maupun lokal, meskipun implementasinya masih menjadi tantangan.

Situasi seperti yang dialami Keisya Levronka menggarisbawahi perlunya tinjauan ulang terhadap praktik-praktik produksi film dan televisi, khususnya terkait jam kerja ekstrem dan kondisi lingkungan syuting yang menantang. Sementara dedikasi seorang aktor merupakan bagian integral dari profesi, penting bagi industri untuk memastikan bahwa batasan fisik dan mental tidak terlampaui. Organisasi profesi dan serikat pekerja di bidang perfilman memiliki peran krusial dalam mengadvokasi kebijakan yang melindungi para anggotanya dari eksploitasi dan memastikan lingkungan kerja yang adil serta aman. Transparansi mengenai tuntutan fisik dalam kontrak kerja dan penyediaan fasilitas pendukung selama syuting, seperti istirahat yang cukup dan penghangat, dapat menjadi langkah mitigasi untuk mencegah insiden serupa di masa mendatang.