Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Debut Film AI Diponegoro Hero: Mengubah Sejarah Bioskop Mulai 14 Agustus

2025-12-27 | 08:06 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-27T01:06:04Z
Ruang Iklan

Debut Film AI Diponegoro Hero: Mengubah Sejarah Bioskop Mulai 14 Agustus

Mars Media pada 14 Agustus 2025 secara resmi merilis "Diponegoro Hero: 200 Tahun Perang Jawa" di Cinepolis Senayan Park, Jakarta, menandai debut film pahlawan nasional pertama di Indonesia yang sepenuhnya diproduksi menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI). Proyek sinematik berdurasi 30 menit ini, yang disutradarai dan diproduseri oleh King Bagus, hadir sebagai upaya merekonstruksi perjuangan Pangeran Diponegoro melawan kolonial Belanda, sekaligus memicu diskusi luas mengenai masa depan perfilman di tengah gelombang inovasi AI.

Inovasi ini menempatkan Indonesia di garis depan pemanfaatan AI dalam produksi film, khususnya untuk genre sejarah yang kerap menuntut biaya besar. "Diponegoro Hero" berhasil direalisasikan dengan anggaran sekitar Rp200 juta, jauh di bawah rata-rata biaya produksi film di Indonesia yang biasanya mencapai sekitar 10 miliar rupiah atau sekitar $602.500. King Bagus, produser film tersebut, menyatakan bahwa penggunaan AI memungkinkan tim kecil yang terdiri dari dua orang dengan imajinasi dan keterampilan prompt-engineering yang kuat untuk menciptakan sinema kolosal, sebuah proses yang secara tradisional akan membutuhkan ratusan kru dan miliaran rupiah. Teknologi AI dimanfaatkan untuk membangun kembali suasana kota, medan perang, hingga karakter tokoh, menghadirkan detail visual dan narasi yang diklaim belum pernah ada sebelumnya.

Peluncuran film ini tidak hanya menarik perhatian dengan tiket yang ludes terjual sebanyak 1.205 di pemutaran perdananya, tetapi juga melalui ketersediaannya secara gratis di platform Usky.ai, memperluas akses publik terhadap konten sejarah dan teknologi. Mars Media menggandeng Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patra PADI) sebagai penasihat historis, memastikan akurasi sejarah dan nilai-nilai luhur sang pahlawan tetap terjaga di tengah kemajuan teknologi. Film ini diharapkan dapat membakar kembali semangat perjuangan dan membuktikan sejarah bisa tetap relevan di era digital, khususnya bagi generasi muda.

Namun, adopsi AI dalam industri perfilman juga memunculkan implikasi yang kompleks. Data menunjukkan bahwa sekitar 40.000 pekerja di sektor film dan animasi Indonesia pada tahun 2020 berpotensi mengalami disrupsi. Pekerjaan di bidang efek visual, storyboarding, dan voice acting terancam tergantikan oleh otomatisasi AI. Seorang penulis skenario, Bayu Kurnia Prasetya, mengakui efisiensi AI dalam tugas-tugas seperti brainstorming dan struktur ide, namun menekankan bahwa AI masih "kurang sentuhan manusia" dan "tidak memiliki jiwa sama sekali" dalam penulisan cerita. Di sisi lain, muncul peran-peran baru yang membutuhkan keahlian prompt artistry AI. Asosiasi Produser Film Indonesia (APFI) secara terbuka mendukung adopsi AI, melihatnya sebagai jalur untuk mencapai kualitas produksi setara Hollywood dengan anggaran yang lebih kecil.

Keberhasilan "Diponegoro Hero" memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain yang signifikan dalam sinema AI global. Film dokumenter AI pendek lainnya, "Nusantara", sebelumnya juga telah meraih penghargaan Dokumenter AI Terbaik di Festival Film AI Cannes 2025. Perkembangan ini menunjukkan bahwa kreativitas dan kemampuan beradaptasi para sineas Indonesia, ditunjang oleh akses ke perangkat AI yang terus berkembang seperti Sora, Runway, Midjourney, dan ChatGPT, dapat membuka peluang eksplorasi narasi lokal untuk pasar global. Institusi pendidikan mulai menawarkan kursus sinematografi AI, mencerminkan pergeseran paradigma dalam pelatihan perfilman. Meskipun perdebatan tentang peran AI versus sentuhan manusia dalam karya seni terus berlanjut, peluncuran "Diponegoro Hero" secara definitif menegaskan bahwa AI bukan lagi sekadar alat eksperimental, melainkan kekuatan transformatif yang membentuk kembali lanskap produksi dan penceritaan di industri film Indonesia.