
Grup musik legendaris BIP merilis ulang lagu nasional "Satu Nusa Satu Bangsa" pada 30 Desember 2025, sebuah langkah signifikan yang ditujukan untuk memperkuat semangat persatuan di tengah tantangan sosial dan politik yang dihadapi Indonesia menjelang usia ke-80 tahun. Perilisan kembali karya Liberty Manik ini menjadi bagian dari proyek "Album Kebangsaan No.03: 10 Windu Indonesia," sebuah inisiatif yang digagas untuk menghidupkan kembali nilai-nilai nasionalisme di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda.
Proyek ini muncul di tengah situasi yang digambarkan sebagai periode penuh cobaan bagi bangsa. Indonesia menghadapi dinamika politik yang memicu gelombang demonstrasi, serta serangkaian bencana alam seperti banjir dan tanah longsor di beberapa wilayah termasuk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Lebih lanjut, derasnya arus informasi di media sosial kerap memunculkan polarisasi dan respons emosional publik, yang dikhawatirkan dapat merenggangkan kohesi sosial. Dalam konteks ini, BIP, yang beranggotakan Bongky (bass), Indra Q (keyboard), Pay Burman (gitar), Ipang Lazuardi (vokal), dan Dede (drum), berupaya menyajikan pesan pemersatu melalui medium musik. "Kami berharap karya ini dapat menjadi penyejuk, pemersatu, serta menghidupkan kembali jiwa-jiwa nasionalis agar Indonesia tetap solid dan bangkit menyongsong masa depan," demikian pernyataan dari pihak BIP.
Lagu "Satu Nusa Satu Bangsa" sendiri memiliki akar sejarah yang kuat, diciptakan oleh L. Manik, terinspirasi oleh peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Karya ini pertama kali diperdengarkan kepada publik melalui siaran Radio Republik Indonesia (RRI) Yogyakarta pada tahun 1947. Esensi lagu ini adalah seruan untuk mengakui satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, yaitu Indonesia, menyoroti pentingnya persatuan di tengah keberagaman suku, ras, bahasa daerah, dan agama di Indonesia. Lagu ini seringkali dinyanyikan dalam upacara bendera dan acara-acara penting nasional, mencerminkan perjuangan para pahlawan dan urgensi untuk meneruskan cita-cita kemerdekaan.
Dalam aransemen ulang ini, BIP menambahkan sentuhan musik yang lebih energik, termasuk lirik sisipan "Eaaa, Eyooo" di awal lagu, tanpa mengubah esensi melodi asli yang telah melekat di benak masyarakat. Pay Burman, Head Produser Album Kebangsaan ini sekaligus gitaris BIP, menyatakan bahwa mengaransemen lagu nasional bukanlah tugas yang mudah dan para personel merasakan beban tersendiri. Namun, ia menekankan bahwa hasilnya diharapkan lebih segar dan bersemangat. Proyek album ini diproduseri secara eksekutif oleh Ahmad Doli Kurnia Tandjung, Founder Sinergy for Indonesia, dan diklaim bersifat non-profit, dengan keuntungan dari lagu-lagu nasional akan diserahkan kepada ahli waris pencipta lagu. Sinergy For Indonesia bahkan secara aktif mencari ahli waris L. Manik untuk mengurus klaim dan penggunaan lagu tersebut secara legal.
Implikasi dari inisiatif BIP ini dapat dilihat dari beberapa perspektif. Secara musikal, aransemen ulang lagu-lagu nasional oleh band rock mapan seperti BIP berpotensi memperkenalkan karya-karya ini kepada segmen pendengar yang lebih muda, yang mungkin lebih akrab dengan genre musik populer kontemporer daripada lagu-lagu patriotik tradisional. Ini merupakan upaya adaptasi budaya mengingat melalui medium musik, sebuah praktik yang juga terlihat pada aransemen ulang lagu-lagu populer lain di masa lalu untuk menjaga relevansi di tengah generasi yang berbeda.
Lebih jauh, perilisan ini merefleksikan peran musisi sebagai agen sosial dalam menanggapi kondisi bangsa. Di tengah perdebatan tentang menurunnya minat generasi muda terhadap lagu nasional dan dominasi konten digital yang bersifat hiburan, kehadiran karya ini menjadi upaya konkret untuk menanamkan kembali nilai-nilai kebangsaan. Upaya ini selaras dengan kebutuhan untuk terus memperbaharui cara pesan-pesan kebangsaan disampaikan, agar tidak hanya terbatas pada kegiatan formal, melainkan juga relevan dengan kehidupan sehari-hari kaum muda. Kesuksesan proyek ini dalam jangka panjang akan tergantung pada seberapa efektif aransemen baru ini dapat diterima dan meresonansi dengan audiens yang dituju, serta apakah ini akan memicu gerakan serupa dari musisi lain untuk terlibat dalam pelestarian dan revitalisasi lagu-lagu nasional.