
Film Believe-Takdir, Mimpi, Keberanian telah menarik 830.808 penonton di bioskop nasional per tanggal 9-10 Agustus 2025, menandai pencapaian substansial bagi genre drama perang bertema nasionalisme di tengah lanskap perfilman Indonesia yang umumnya didominasi oleh horor dan drama keluarga. Dirilis perdana pada 24 Juli 2025, film ini memperkuat posisi sinema lokal yang mampu bersaing dengan kualitas produksi dan narasi yang mendalam.
Kisah Believe-Takdir, Mimpi, Keberanian, yang diadaptasi dari buku biografi "Believe - About Faith, Dream, and Courage," menyuguhkan narasi perjuangan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari masa ke masa, dengan latar belakang historis Operasi Seroja 1975 serta operasi militer di Timor Timur pada tahun 1995 dan 1999. Produser Celerina Judisari dari Rumah Produksi Bahagia Tanpa Drama menyatakan film ini dirancang untuk menghadirkan gambaran pertempuran yang realistis, baik dari segi cerita maupun teknis produksi, menuntut komitmen tinggi dari seluruh tim. Proses riset mendalam dilakukan untuk memastikan akurasi detail sejarah, mulai dari desain seragam, setting desa Timor Timur era 1970-an, hingga jenis senjata yang digunakan. Produksi melibatkan lebih dari 22 ledakan besar dan delapan adegan kontak senjata, termasuk pembangunan dua kampung yang kemudian dibakar untuk keperluan adegan.
Keberhasilan film ini menembus angka 800 ribu penonton menunjukkan daya tarik kuat genre perjuangan dan nasionalisme, meskipun produser Celerina Judisari mengakui bahwa genre ini memiliki tantangan tersendiri di pasar film nasional, mengingat beberapa film bertema serupa sebelumnya belum mampu menembus satu juta penonton. Para pemeran juga menunjukkan dedikasi luar biasa dalam produksi film ini. Wafda Saifan, pemeran Serka Dedi, mengungkapkan ia harus digantung 20 meter demi adegan terjun payung, sementara Ajil Ditto, pemeran Kapten Agus, rela menurunkan berat badan 13 kilogram dalam satu bulan untuk mempersiapkan perannya. Penayangan film yang bertepatan dengan bulan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia dinilai relevan dengan tema cerita dan mungkin turut berkontribusi pada penerimaannya.
Dalam konteks industri perfilman Indonesia tahun 2025, jumlah penonton bioskop terus pulih dan mencatat rekor signifikan. Riset Samuel Sekuritas menunjukkan lonjakan penonton didorong kuat oleh film lokal yang mencetak rekor. Meskipun film Believe-Takdir, Mimpi, Keberanian berhasil meraih lebih dari 800 ribu penonton, genre horor dan drama keluarga masih menjadi primadona. Namun, pencapaian Believe-Takdir, Mimpi, Keberanian membuktikan bahwa film dengan tema yang lebih serius dan kolosal seperti drama perang juga memiliki potensi pasar yang besar jika digarap dengan kualitas tinggi. Film animasi Jumbo tercatat sebagai film Indonesia terlaris sepanjang 2025 dengan lebih dari 10 juta penonton, diikuti oleh kesuksesan Agak Laen 2 yang menembus lebih dari 9 juta penonton. Ini mengindikasikan bahwa penonton Indonesia semakin mengapresiasi keragaman cerita lokal dan produksi berkualitas.
Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif Yovie Widianto menekankan pentingnya menjadikan ekonomi kreatif sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru, dengan kolaborasi internasional dalam produksi film sebagai salah satu agenda utama. Kesuksesan film seperti Believe-Takdir, Mimpi, Keberanian memberikan momentum bagi sineas untuk menjelajahi lebih banyak genre dan tema yang beragam, memperkaya khazanah perfilman nasional, dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain penting dalam industri kreatif global. Hal ini juga menunjukkan kematangan perfilman Indonesia yang tidak hanya berfokus pada daya tarik komersial semata, tetapi juga berani menghadirkan kisah-kisah yang relevan dengan sejarah dan nilai-nilai kebangsaan dengan standar produksi yang tinggi.