Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Bara Valentino: Pilihan Mulia Jumat Berkah Bersama Anak Disabilitas, Lebih Bermakna dari Liburan

2025-12-31 | 23:36 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-31T16:36:07Z
Ruang Iklan

Bara Valentino: Pilihan Mulia Jumat Berkah Bersama Anak Disabilitas, Lebih Bermakna dari Liburan

Aktor Bara Valentino mengalihkan rencana liburan akhir tahun 2025nya dengan menghabiskan momen "Jumat Berkah" bersama anak-anak penyandang disabilitas ganda di Yayasan Sayap Ibu, Bintaro, Tangerang Selatan, pada Jumat, 26 Desember 2025. Keputusan ini diambil bersama selebritas lain seperti Angela Tee dan Dewi Lin, memilih interaksi langsung daripada perayaan liburan konvensional.

Langkah Valentino ini terjadi di tengah musim liburan akhir tahun, periode ketika banyak figur publik memilih destinasi wisata mewah. Namun, Valentino menegaskan bahwa pengalaman berinteraksi dengan anak-anak berkebutuhan khusus di yayasan tersebut terasa sangat istimewa. "Kemarin ada teman ajak bikin kegiatan sosial di daerah Bintaro. Pas banget hari Jumat, jadi kita Jumat Berkah. Lebih baik menghabiskan waktu di yayasan bersama adik-adik kita di sana," ujar Bara Valentino. Ia menambahkan, jika sebelumnya kunjungan sosial hanya sebatas mengantarkan bantuan makanan, kali ini ia meluangkan waktu untuk bernyanyi, makan bersama, dan menjalin kedekatan emosional, termasuk dengan anak-anak yang memiliki disabilitas ganda. Angela Tee turut menyebut kegiatan ini sebagai "Jumat Berkah terakhir di tahun 2025," dengan harapan menjadi penutup tahun yang manis dan pembuka tahun baru yang positif.

Keterlibatan selebritas dalam isu disabilitas menyoroti kondisi signifikan anak-anak berkebutuhan khusus di Indonesia. Berdasarkan data Survei Kesejahteraan Indonesia (SKI) 2024, sekitar satu juta anak penyandang disabilitas hidup di Indonesia dari total populasi anak sekitar 83 juta jiwa, meskipun estimasi lain menunjukkan rentang yang lebih lebar hingga hampir 2 juta anak. Kelompok ini menghadapi tantangan multidimensional, termasuk keterbatasan akses terhadap layanan dasar, stigma sosial, diskriminasi, serta minimnya kesempatan untuk berkembang secara optimal. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 menunjukkan ketimpangan pendidikan yang mencolok; 19,48% anak disabilitas usia 7-12 tahun tidak melanjutkan sekolah, jauh lebih tinggi dibandingkan 0,57% anak nondisabilitas pada kelompok usia yang sama. Komisi Nasional Disabilitas (KND) lebih lanjut mengungkapkan bahwa 26% dari sekitar 4 juta anak tidak sekolah di Indonesia adalah penyandang disabilitas, dengan rata-rata lama sekolah mereka hanya mencapai kelas 5 SD, berbanding dengan rata-rata kelas 9 bagi anak nondisabilitas. Hambatan ini disebabkan oleh berbagai faktor seperti biaya, "learned helplessness," dan penolakan dari sekolah karena ketiadaan guru pembimbing khusus. Selain itu, UNICEF mencatat bahwa 54% anak perempuan penyandang disabilitas mengalami stunting, hanya 62% yang diimunisasi, dan 36% tidak bersekolah.

Interaksi pribadi Valentino, yang mengaku awalnya merasa sedih namun berusaha tegar demi menularkan energi positif, menunjukkan potensi besar peran figur publik dalam menggeser persepsi dan meningkatkan empati publik. "Ini pertama kali aku bertemu sama teman-teman disabilitas di sini dan itu membuat aku semangat untuk ke depannya insyaallah ya 2026 dan ke depannya lagi lebih baik lagi," ungkap Valentino. Angela Tee juga merasakan haru mendalam melihat senyum tulus anak-anak yang kesulitan mengekspresikan diri. Tindakan semacam ini melampaui sumbangan materi semata, melainkan juga menciptakan visibilitas dan narasi positif yang krusial untuk advokasi disabilitas.

Dampak jangka panjang dari aksi semacam ini terletak pada perubahan kesadaran kolektif. Ketika selebritas seperti Bara Valentino secara aktif berpartisipasi dan membagikan pengalamannya, hal itu berpotensi menginspirasi lebih banyak individu dan organisasi untuk terlibat. Ini dapat berkontribusi pada upaya mengatasi stigma sosial yang melekat pada disabilitas di Indonesia, sebuah masalah yang ditegaskan oleh Tati Srihayati dari Direktorat PMPK sebagai langkah awal dalam pembangunan inklusif. Pergeseran fokus dari liburan mewah ke kegiatan sosial pada momen krusial akhir tahun juga dapat memengaruhi prioritas konsumsi dan sosial masyarakat, mendorong refleksi terhadap nilai-nilai kepedulian. Kesediaan Valentino untuk mengulangi aksi serupa di masa mendatang mengindikasikan bahwa ini bukan sekadar tindakan sesaat, melainkan potensi komitmen berkelanjutan yang dapat memberikan dukungan moral dan material yang sangat dibutuhkan oleh yayasan dan anak-anak penyandang disabilitas.