
Penyanyi Ayu Hendranata meluncurkan single perdananya berjudul "Milo (Me In Love)" pada akhir September dan awal Oktober 2025, secara signifikan meredefinisi narasi "cinta yang tulus" dalam industri musik Indonesia dengan menyoroti ikatan mendalam antara manusia dan hewan peliharaan. Debut Hendranata ini, yang sebelumnya dikenal sebagai penulis isu sosial dan kebijakan publik, menandai pergeseran medium ekspresinya dari ranah intelektual ke kancah musik pop, menawarkan perspektif personal tentang kesetiaan tanpa syarat yang ditemukan dalam hubungannya dengan anjing kesayangannya, Milo.
Hendranata, yang juga seorang Magister Ilmu Komunikasi dan pendiri AH&Me Production, mengungkapkan bahwa lagu ini terinspirasi dari pengalaman pribadinya, termasuk kehilangan putranya dan pelajaran berharga tentang cinta sejati yang ia dapatkan dari Milo. Menurutnya, cinta yang kerap kali dibingkai dalam hubungan antarmanusia seringkali penuh dengan syarat, sebuah kontras yang tajam dengan kesetiaan yang ia temukan pada sahabat berkaki empatnya. "Milo bukan sekadar hewan peliharaan, tapi teman dan cermin dari kesetiaan yang tulus," ujar Hendranata dalam sebuah kesempatan. Pernyataan ini menegaskan bahwa ketulusan cinta sejati muncul ketika keegoisan dikesampingkan, dan seseorang sepenuhnya hadir untuk yang disayangi.
Pendekatan ini memiliki implikasi signifikan terhadap bagaimana "cinta yang tulus" dipersepsikan dalam budaya populer, terutama dalam genre musik yang seringkali didominasi oleh romansa antarpasangan. Lagu "Milo" secara eksplisit menantang batasan konvensional definisi cinta, mendorong pendengar untuk melihat bahwa cinta sejati dapat hadir dalam berbagai bentuk, bahkan melalui ikatan dengan hewan peliharaan. Hendranata sendiri menyatakan bahwa musik adalah bahasa universal yang memungkinkan dirinya mengajak orang merasakan beragam manifestasi cinta sejati. Ini menjadi sebuah analisis konteks bahwa karya Hendranata tidak hanya menyajikan sebuah lagu, melainkan juga sebuah pernyataan budaya tentang keutuhan dan kesetiaan yang sering terabaikan dalam diskursus modern tentang kasih sayang. Pesan yang diusungnya bukan sekadar tentang memiliki, melainkan merawat, menerima, dan menghargai setiap momen kebersamaan.
Dari sudut pandang dampak jangka panjang, "Milo (Me In Love)" berpotensi menginspirasi pergeseran tematik dalam penulisan lagu di Indonesia, membuka ruang bagi eksplorasi bentuk-bentuk cinta non-romantis yang lebih luas. Dengan latar belakangnya sebagai penulis yang kritis terhadap isu sosial dan kebijakan publik, Hendranata kini menggunakan musik sebagai medium yang lebih intim untuk menyuarakan keresahannya, menunjukkan evolusi seorang komunikator yang mencari cara baru untuk menyampaikan pesan yang mendalam. Keberhasilannya meraih predikat lulusan terbaik dengan IPK 3,98 baru-baru ini juga mengukuhkan kredibilitas intelektual di balik karya seninya. Lagu ini diharapkan tidak hanya menghibur, tetapi juga memprovokasi refleksi tentang kualitas hubungan yang dimiliki pendengar.