
Sejak penobatannya pada tahun 1953, koleksi potret resmi Ratu Elizabeth II telah menjadi representasi visual dari pemerintahan terpanjang dalam sejarah Inggris, mencerminkan evolusi monarki dan seni rupa Inggris melalui lensa berbagai seniman terkemuka. Karya-karya ini, yang kini menjadi artefak budaya dan sejarah, lebih dari sekadar representasi fisik; mereka adalah catatan visual tentang identitas seorang kepala negara, narasi sebuah bangsa, dan pergeseran dalam persepsi publik terhadap monarki selama tujuh dekade. Tujuh lukisan menonjol secara khusus karena signifikansi artistik, historis, dan dampaknya terhadap citra publik Ratu, menawarkan wawasan mendalam tentang peran dan warisan monarki konstitusional.
Potret Penobatan oleh Sir Cecil Beaton pada tahun 1953, meski lebih dikenal sebagai fotografi, menginspirasi banyak seniman. Namun, lukisan penobatan oleh Terence Cuneo pada tahun yang sama, yang menggambarkan Ratu di Kapel St. Edward, Westminster Abbey, menawarkan interpretasi artistik yang kaya akan detail dan suasana khidmat, menangkap momen krusial transisi dan harapan. Cuneo dikenal dengan kemampuannya menangkap kerumitan acara kenegaraan, dan karyanya ini menjadi dokumentasi visual penting dari peristiwa bersejarah tersebut.
Pada tahun 1954, Pietro Annigoni melukis potret pertama Ratu Elizabeth II yang sangat ikonik, yang kini disimpan di Fishmongers' Company, London. Lukisan ini menampilkan Ratu dalam jubah Garter, berdiri dengan latar belakang lanskap yang dramatis, memancarkan aura ketenangan, kekuatan, dan keseriusan yang cocok dengan peran barunya. Potret Annigoni dianggap sebagai salah satu yang paling berhasil dalam menangkap esensi kepemimpinan muda dan karismatik Ratu, sering kali disebut sebagai salah satu representasi paling disukai oleh publik. “Potret itu memiliki kualitas melankolis tertentu yang membuat Ratu terlihat seperti ratu yang berpikir, yang jauh dari kesan glamor dan modis,” kata Philip Hewat-Jaboor, kurator dan sejarawan seni, dikutip dari Vanity Fair.
Pada periode 1969-1970, Sir William Dring menciptakan potret Ratu Elizabeth II yang menampilkan keanggunan dan keagungan. Lukisan ini menyoroti detail gaun dan perhiasan, dengan latar belakang yang sederhana namun berwibawa, mencerminkan gaya seni rupa klasik yang masih dihormati pada masa itu.
Lukisan lain yang menonjol adalah karya Bryan Organ pada tahun 1974, yang kini berada di National Portrait Gallery, London. Organ menampilkan Ratu dalam pose yang lebih santai namun tetap berwibawa, dengan fokus pada ekspresi wajah yang menunjukkan kebijaksanaan dan pengalaman yang mulai terbentuk. Ini menandai pergeseran tipis dari potret formal yang kaku menuju representasi yang lebih personal, meski tetap dalam kerangka kenegaraan.
Potret oleh Andrew Festing pada tahun 1999, yang menggambarkan Ratu Elizabeth II mengenakan Order of the Garter, menunjukkan kedewasaan dan pengalaman selama beberapa dekade di takhta. Festing, yang dikenal dengan potret realistisnya, berhasil menangkap karakter Ratu dengan kehalusan, menampilkan sosok yang kini telah menjadi ikon stabilitas.
Lukisan “An Official Portrait” oleh Lucian Freud pada tahun 2001, meskipun menuai perdebatan karena pendekatannya yang mentah dan tidak sentimental, secara artistik sangat signifikan. Freud, yang dikenal dengan potretnya yang intens dan tidak mengindahkan keindahan konvensional, menampilkan Ratu dengan mahkota kecil dan ekspresi wajah yang jujur, jauh dari citra kerajaan yang idealis. “Lukisan Freud adalah pandangan yang tak kenal ampun, tetapi jujur pada orang yang bertanggung jawab atas Monarki,” tulis Dr. Mark Collins, kurator di Museum Seni Brigham Young University. Potret ini, meskipun hanya berukuran 23,5 x 15,25 cm, memberikan gambaran yang mendalam dan intim tentang individu di balik mahkota, menantang persepsi publik tentang kemewahan monarki dan mendorong diskusi kritis mengenai representasi kekuatan.
Lukisan karya Ralph Heimans pada tahun 2012, “The Queen at Westminster Abbey,” memperingati Diamond Jubilee Ratu. Heimans menggambarkan Ratu berdiri di spot penobatannya di Westminster Abbey, memancarkan kedalaman sejarah dan keberlanjutan. Potret ini menggunakan pencahayaan dramatis dan detail arsitektur untuk menempatkan Ratu dalam konteks warisan yang mendalam, menekankan perannya sebagai penjaga tradisi dan simbol kesinambungan institusi monarki.
Lukisan-lukisan ini secara kolektif tidak hanya menandai evolusi dalam seni potret Inggris, tetapi juga memberikan gambaran tentang bagaimana Ratu Elizabeth II dan monarki diproyeksikan dan dipahami selama pemerintahannya yang panjang. Dari potret awal yang penuh harapan hingga karya-karya yang lebih reflektif di kemudian hari, setiap lukisan menangkap aspek berbeda dari kepribadian dan perannya, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari warisan budaya Inggris dan studi tentang bagaimana kekuasaan dan identitas diproyeksikan melalui seni rupa. Analisis terhadap karya-karya ini mengungkapkan bahwa seni potret kerajaan bukan hanya tentang representasi visual, melainkan juga tentang negosiasi identitas, kekuatan, dan hubungan antara penguasa dan rakyatnya, yang terus beresonansi hingga kini.