Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

6 Skandal Artis Korea Paling Menggemparkan 2025: Guncang Jagat Hiburan

2025-12-30 | 06:17 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-29T23:17:39Z
Ruang Iklan

6 Skandal Artis Korea Paling Menggemparkan 2025: Guncang Jagat Hiburan

Industri hiburan Korea Selatan diguncang oleh serangkaian skandal yang melibatkan beberapa nama terbesar K-pop sepanjang tahun 2025, memicu debat intens tentang standar moral, perlakuan agensi, dan tekanan ekstrem yang dihadapi para idola. Insiden-insiden ini tidak hanya merusak reputasi individu tetapi juga mengungkap kerentanan struktural dalam sistem pelatihan dan manajemen K-pop yang sarat investasi.

Salah satu guncangan terbesar terjadi pada bulan Agustus ketika Sehun dari grup idola global EXO, yang tengah menjalani wajib militer sebagai pekerja layanan publik, diduga terlihat berkencan di sebuah restoran mewah di Cheongdam-dong, Gangnam, Seoul, dengan seorang wanita. Postingan anonim di komunitas daring yang menyertakan detail tentang wanita tersebut membawa tas merek mewah memicu spekulasi luas. Rumor ini sempat mengganggu periode wajib militernya dan memicu perdebatan sengit di kalangan penggemar serta publik mengenai kebebasan pribadi idola selama dinas negara. Meskipun SM Entertainment belum memberikan pernyataan resmi mengenai insiden Agustus 2025 tersebut, pada Maret 2023, agensi tersebut dengan tegas membantah rumor kencan dan kehamilan yang melibatkan Sehun, menyebutnya sebagai "informasi palsu yang tidak berdasar" dan mengancam tindakan hukum. Kontroversi seputar kencan idola, terutama selama masa wajib militer, mencerminkan ekspektasi tinggi masyarakat Korea terhadap figur publik dan "kontrak tidak tertulis" yang membatasi kehidupan pribadi mereka.

Pergolakan besar kedua datang dari dunia hukum, ketika Lisa dari BLACKPINK, salah satu ikon K-pop terbesar, mengajukan gugatan terhadap agensi lamanya, YG Entertainment, pada bulan Maret, menuntut pemutusan kontrak eksklusifnya. Gugatan ini menyoroti "kondisi tidak adil dan kurangnya transparansi dalam pembagian keuntungan" yang dialaminya selama bertahun-tahun. Kasus ini menggemakan preseden historis seperti gugatan TVXQ terhadap SM Entertainment pada tahun 2009 yang berhasil mengakhiri "kontrak budak" selama 13 tahun, serta perselisihan kontrak LOONA dan FIFTY FIFTY yang mengarah pada pembubaran atau perombakan grup. Seiring dengan perkembangan kasus, perwakilan hukum Lisa, Kim Min-joon dari firma hukum Hanwool, menyatakan, "Tujuan kami adalah mencapai kesepakatan yang adil yang menghormati kontribusi artistik Lisa dan menetapkan preseden untuk hak-hak idola di masa depan." Gugatan ini dapat mengubah lanskap kontrak dalam industri K-pop, mendorong agensi untuk mengadopsi struktur yang lebih transparan dan berpusat pada artis.

Bulan Juni menyaksikan berita mengejutkan ketika Jungkook BTS, superstar global, terlibat dalam dugaan skandal penyalahgunaan zat terlarang setelah laporan media lokal mengindikasikan bahwa ia diinterogasi terkait penggunaan ganja di sebuah acara pribadi. Big Hit Music, agensi HYBE, merilis pernyataan singkat yang berbunyi, "Kami sedang memverifikasi fakta," namun insiden tersebut memicu gelombang kekhawatiran di kalangan penggemar dan investor. Skandal narkoba bukan hal baru dalam K-pop, dengan kasus-kasus sebelumnya melibatkan idola seperti G-Dragon BIGBANG dan T.O.P, serta penyanyi B.I, yang berdampak serius pada karier mereka. "Industri K-pop memiliki toleransi nol terhadap penyalahgunaan narkoba, dan bahkan tuduhan sekalipun dapat merusak citra artis secara permanen," kata Lee Hyun-joo, seorang kritikus budaya pop, yang menggarisbawahi dampak potensial pada citra bersih BTS. Skandal ini dapat mempengaruhi dukungan merek global terhadap BTS dan mengarah pada peninjauan ulang kebijakan manajemen krisis HYBE.

Kekerasan di sekolah kembali menjadi sorotan tajam pada bulan April ketika idola IVE, Jang Wonyoung, dituduh melakukan intimidasi di sekolah menengah oleh beberapa mantan teman sekelas melalui unggahan anonim di forum daring. Tuduhan ini, yang mencakup klaim eksklusi sosial dan pelecehan verbal, dengan cepat menyebar dan mengancam reputasi Jang Wonyoung yang sebelumnya bersih. Starship Entertainment, agensi IVE, dengan sigap membantah tuduhan tersebut dan mengumumkan tindakan hukum tegas terhadap penyebar informasi palsu. Skandal "hakpok" (kekerasan di sekolah) telah merusak karier beberapa selebriti Korea di masa lalu, termasuk aktris Park Hye-su dan anggota LE SSERAFIM Kim Garam. Kasus ini menunjukkan bagaimana masa lalu idola dapat terus menghantui mereka di era digital, memaksa agensi untuk melakukan pemeriksaan latar belakang yang lebih ketat. Pada Januari 2024, Jang Wonyoung sendiri memenangkan gugatan perdata terhadap YouTuber "Sojang" yang menyebarkan informasi palsu, yang menghasilkan putusan ganti rugi 50 juta won. Ini menggarisbawahi pentingnya tanggapan hukum proaktif terhadap pencemaran nama baik daring.

Kontroversi plagiarisme juga mencuat pada bulan Mei, melibatkan girl group NewJeans dan agensinya ADOR, di bawah payung HYBE Corporation. CEO ADOR, Min Hee-jin, secara terbuka menuduh grup idola lain, ILLIT (dari anak perusahaan HYBE lainnya, BELIFT LAB), meniru konsep, gaya, dan koreografi NewJeans. Tuduhan ini memicu perdebatan sengit tentang orisinalitas dalam industri K-pop yang serba cepat dan menyoroti dinamika kompleks di antara label-label di bawah perusahaan induk yang sama. Sementara HYBE dan BELIFT LAB membantah tuduhan tersebut, insiden ini memicu diskusi tentang batasan inspirasi dan plagiarisme di K-pop, di mana tren visual dan musikal seringkali saling tumpang tindih. Min Hee-jin sendiri kemudian menghadapi tuduhan plagiarisme terkait konsep NewJeans yang dituduh mirip dengan grup Meksiko tahun 90-an, JNS, dan karya-karyanya sebelumnya untuk F(x). Perselisihan ini menimbulkan pertanyaan lebih lanjut tentang standar kekayaan intelektual dalam industri.

Terakhir, pada bulan Oktober, agensi JYP Entertainment mengumumkan tindakan hukum terhadap sejumlah "sasaeng" yang terlibat dalam insiden serius yang mengancam keselamatan anggota Stray Kids, Felix, di bandara internasional Incheon. Peristiwa ini, yang melibatkan upaya paksa untuk mendekati artis dan pelanggaran privasi, menyoroti bahaya ekstrem yang ditimbulkan oleh perilaku penggemar obsesif. JYP Entertainment menyatakan, "Kami akan mengambil langkah hukum yang tegas terhadap individu yang terlibat dalam tindakan penguntitan, pelanggaran privasi, dan gangguan keamanan artis kami." Insiden ini menambah daftar panjang kasus sasaeng yang telah lama menjadi masalah serius dalam industri K-pop, seringkali memaksa agensi untuk meningkatkan langkah-langkah keamanan dan menuntut hukuman yang lebih berat bagi pelaku. "Sasaeng" dapat menimbulkan trauma psikologis yang signifikan bagi para idola, dan industri perlu mengadvokasi undang-undang yang lebih kuat untuk melindungi privasi dan keselamatan artis.

Secara keseluruhan, tahun 2025 menjadi pengingat yang mencolok tentang tantangan multifaset yang dihadapi industri K-pop. Dari tekanan kontrak dan harapan publik hingga ancaman privasi dan tuduhan plagiarisme, peristiwa-peristiwa ini memaksa agensi dan artis untuk menghadapi realitas yang semakin kompleks dan menuntut standar akuntabilitas yang lebih tinggi di mata dunia.