Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

5 Vandalisme Paling Mengejutkan yang Mengubah Wajah Dunia Seni

2025-12-21 | 21:06 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-21T14:06:30Z
Ruang Iklan

5 Vandalisme Paling Mengejutkan yang Mengubah Wajah Dunia Seni

Paris, Prancis—Pada 28 Januari 2024, dunia seni kembali dikejutkan ketika dua aktivis lingkungan melemparkan sup tomat ke lukisan "Mona Lisa" karya Leonardo da Vinci di Museum Louvre. Insiden ini, yang dilakukan oleh kelompok Riposte Alimentaire untuk memprotes hak atas pangan yang sehat dan berkelanjutan, menyoroti meningkatnya tren vandalisme terhadap karya seni ikonis sebagai bentuk ekspresi kekecewaan publik. Meskipun lukisan paling terkenal di dunia itu dilindungi kaca antipeluru dan tidak mengalami kerusakan, aksi ini mengulang serangkaian serangan serupa yang menggema di galeri dan museum global, memicu perdebatan tentang perlindungan warisan budaya di tengah isu sosial mendesak.

Aksi vandalisme terhadap karya seni bukanlah fenomena baru, namun motivasinya terus berkembang dari waktu ke waktu. Dari kerusakan yang didorong oleh ketidakstabilan mental hingga protes politik terorganisir, tindakan ini sering kali bertujuan menarik perhatian luas terhadap isu-isu yang diyakini pelakunya lebih penting daripada integritas sebuah mahakarya. Sejarah mencatat berbagai bentuk perusakan, yang memaksa institusi seni untuk terus beradaptasi dalam melindungi koleksi tak ternilai.

Pada 14 Oktober 2022, dua aktivis "Just Stop Oil" menyiramkan sup tomat ke lukisan "Sunflowers" karya Vincent van Gogh di National Gallery London, Inggris, sebelum menempelkan tangan mereka ke dinding. Mereka memprotes proyek minyak dan gas baru di Inggris, menanyakan "Apa yang lebih berharga, seni atau kehidupan?". Lukisan Van Gogh yang ditaksir bernilai US$84 juta ini juga terlindung kaca, sehingga tidak rusak. Beberapa hari kemudian, pada 23 Oktober 2022, kelompok Letzte Generation melemparkan kentang tumbuk ke "Grainstacks" karya Claude Monet di Museum Barberini, Jerman, juga sebagai bentuk protes iklim.

Insiden yang jauh lebih merusak terjadi pada 15 Juni 1985, ketika Bronius Maigys, seorang warga Lituania, melemparkan asam sulfat ke lukisan "Danaë" karya Rembrandt van Rijn di Museum Hermitage, Rusia. Asam tersebut melunturkan cat, terutama di bagian wajah, rambut, dan lengan kanan lukisan yang dibuat pada tahun 1636 itu. Pelaku juga menyerang lukisan dengan benda tajam di bagian perut. Proses restorasi memakan waktu hingga 12 tahun sebelum lukisan itu dapat dipamerkan kembali.

Kasus lain yang menyoroti motif pribadi atau pernyataan seni adalah ketika pada tahun 2012, seorang mahasiswa seni bernama Uriel Landeros merusak "Woman in a Red Armchair" karya Pablo Picasso di Menil Collection, Houston, Amerika Serikat, dengan menyemprotkan cat dan menuliskan kata "conquista" (penakluk) dalam bahasa Spanyol. Landeros kemudian melarikan diri namun berhasil ditangkap dan dijatuhi hukuman dua tahun penjara.

Para pemimpin museum dan lembaga budaya di seluruh dunia mengecam keras tindakan-tindakan ini. Dewan Museum Internasional (ICOM) Jerman, bersama sekitar 90 direktur museum, menyatakan keprihatinan mendalam atas aksi yang mengabaikan kerentanan karya seni yang "tidak tergantikan" dan merupakan bagian dari warisan budaya dunia. Konservator dan sejarawan seni menekankan bahwa bahkan dengan perlindungan terbaik, setiap serangan membawa risiko kerusakan permanen dan mengalihkan sumber daya berharga untuk restorasi.

Implikasi jangka panjang dari aksi vandalisme ini multifaset. Secara finansial, biaya restorasi bisa mencapai jutaan dolar, belum termasuk peningkatan investasi pada keamanan. Secara filosofis, muncul pertanyaan tentang keseimbangan antara aksesibilitas publik terhadap seni dan kebutuhan perlindungan ekstrem. Vandalisme ini juga memicu refleksi tentang batas-batas aktivisme dan bagaimana pesan dapat disampaikan tanpa merusak warisan yang seharusnya menjadi milik bersama. Perdebatan ini, yang melibatkan seniman, aktivis, kurator, dan publik, akan terus membentuk masa depan interaksi antara seni, aktivisme, dan masyarakat.