
Unveiling citra kekuasaan dan identitas monarki modern, lima lukisan terkemuka Raja Charles III menawarkan sebuah jendela mendalam ke dalam evolusi representasi kerajaan, mulai dari masa Pangeran Wales hingga penobatannya sebagai raja. Karya-karya ini, yang dieksekusi oleh seniman-seniman dengan gaya dan visi berbeda, memicu diskusi publik yang luas mengenai tradisi, inovasi, dan persepsi figur raja di abad ke-21. Setiap sapuan kuas mencerminkan upaya untuk menangkap esensi seorang individu yang mewarisi takhta sambil menavigasi ekspektasi masyarakat kontemporer.
Potret pertama yang paling signifikan dan baru-baru ini menyita perhatian adalah karya Jonathan Yeo, yang diresmikan pada Mei 2024 di Istana Buckingham. Lukisan berukuran besar ini menampilkan Raja Charles III mengenakan seragam Welsh Guards, dengan latar belakang merah menyala yang dominan, mencerminkan warna resimen tersebut. Yeo, yang dikenal karena gaya kontemporer dan kemampuannya menangkap kepribadian subjek, membutuhkan waktu tiga tahun untuk menyelesaikan karya ini, memulai pengerjaannya ketika Charles masih menjabat sebagai Pangeran Wales pada 2020. Lukisan ini adalah potret resmi pertama Raja sejak penobatannya dan menerima reaksi beragam dari publik dan kritikus; beberapa memuji keberanian palet warnanya dan intensitas tatapan Raja, sementara yang lain menganggapnya terlalu dramatis atau bahkan mengganggu. Sebuah kupu-kupu yang tampak melayang di atas bahu Raja diinterpretasikan sebagai simbol transformasi atau referensi pada advokasi Raja terhadap lingkungan.
Mundur ke masa Pangeran Charles, potret karya Paul Emsley pada tahun 2010 menampilkan sebuah representasi yang lebih intim dan kontemplatif. Dipesan oleh The Royal Collection Trust untuk merayakan ulang tahun ke-60 Pangeran Wales, potret ini menyoroti wajah Charles dengan detail yang realistis, menggunakan teknik chiaroscuro untuk menciptakan kedalaman dan karakter. Mata Charles, digambarkan dengan detail yang tajam, menjadi titik fokus utama, memancarkan kesan kebijaksanaan dan pengalaman. Emsley menyatakan bahwa ia ingin menangkap "jiwa" sang Pangeran, dan hasilnya adalah sebuah karya yang dianggap oleh banyak pihak sebagai salah satu representasi paling jujur dan tidak terbebani dari dirinya pada saat itu. Potret ini dipajang di berbagai pameran dan menjadi bagian dari koleksi pribadi Kerajaan.
Pada tahun yang sama, seniman Skotlandia Nicky Philipps juga melukis potret ganda Pangeran Charles bersama kedua putranya, Pangeran William dan Pangeran Harry, serta potret tunggal Pangeran Charles. Potret tunggal Pangeran Charles oleh Philipps menggambarkan dirinya dalam seragam Field Marshal, dengan latar belakang yang lebih tradisional dan formal. Karya ini menampilkan pendekatan yang lebih klasik terhadap potret kerajaan, dengan fokus pada regalia dan postur yang anggun, yang mungkin lebih akrab bagi publik yang terbiasa dengan gaya potret kerajaan historis. Philipps dikenal karena kemampuannya dalam potret realis dan seringkali mengambil inspirasi dari master-master lama.
Selanjutnya, potret karya Alastair Barford pada tahun 2023, yang dipesan oleh Illustrated London News, menjadi penanda visual penting setelah penobatan Raja Charles III. Potret ini menampilkan Raja mengenakan jubah kebesaran, memberikan kesan otoritas dan tradisi. Karya Barford ini bertujuan untuk menangkap momen historis penobatan, mengabadikan Charles dalam peran barunya sebagai Kepala Negara. Meskipun lebih bersifat ilustratif untuk publikasi media, potret ini tetap memiliki signifikansi budaya karena distribusinya yang luas dan perannya dalam membentuk citra publik Raja di awal masa pemerintahannya.
Terakhir, potret karya Bryan Organ pada tahun 1980, salah satu potret Pangeran Charles yang paling awal dan modern, menawarkan perspektif yang berbeda. Organ, yang dikenal dengan gaya semi-abstrak dan penggunaan warna-warna cerah, melukis Charles dengan sentuhan kontemporer yang mencolok untuk zamannya. Potret ini menunjukkan seorang Charles yang lebih muda, seringkali digambarkan dengan cara yang kurang formal dibandingkan tradisi potret kerajaan sebelumnya, menandai pergeseran menuju representasi yang lebih terbuka dan artistik. Karya Organ seringkali dianggap sebagai langkah maju dalam potret kerajaan yang berani bereksperimen dengan gaya dan bukan hanya sekadar dokumentasi visual.
Kelima lukisan ini, meskipun beragam dalam gaya dan konteks pembuatannya, secara kolektif mengilustrasikan narasi visual Raja Charles III. Dari formalitas kaku hingga sentuhan modern yang berani, potret-potret ini tidak hanya mendokumentasikan penampilan fisik seorang raja tetapi juga merefleksikan perubahan dalam persepsi monarki, peran seni dalam masyarakat, dan dialog abadi antara tradisi dan inovasi. Mereka akan terus menjadi subjek analisis dan apresiasi, membentuk bagian dari warisan budaya yang tak terpisahkan dari pemerintahannya.