
Film "Tak Kenal Maka Taaruf" telah resmi tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 13 November 2025, menawarkan sebuah kisah cinta yang berbeda dari lazimnya drama romansa. Diadaptasi dari novel populer berjudul sama karya Mim Yudiarto, film ini menyajikan perpaduan menarik antara drama religi, romansa, dan komedi, dengan pesan edukatif yang kuat bagi generasi muda.
Disutradarai oleh Toma Margens, film ini merupakan produksi dari Yahywa Titi Mangsa, dengan Dedy Suherman bertindak sebagai produser eksekutif. Deretan aktor muda berbakat turut menghidupkan karakter-karakter utamanya, termasuk Saskia Chadwick sebagai Zoya, Fadi Alaydrus sebagai Faris, Dinda Mahira sebagai Cleopatra atau Cleo, dan Shandy William sebagai Salahuddin.
Kisah "Tak Kenal Maka Taaruf" berpusat pada Zoya, seorang mahasiswi kedokteran cerdas yang mengidap philophobia, yakni ketakutan akan cinta, akibat trauma dari kegagalan hubungan masa lalu di keluarganya. Dengan prinsip kuat untuk menjalani pernikahan tanpa pacaran, Zoya teguh memegang kaidah agama. Kehidupannya mulai berubah saat ia bertemu Faris, mahasiswa teknik kelautan yang tampan dan seorang vokalis band. Ironisnya, Zoya awalnya membenci Faris karena suara bising motornya setiap kali Faris pergi ke masjid kampus. Konflik semakin berkembang dengan munculnya Cleopatra, seorang mahasiswi cantik dan populer yang juga penggemar berat Faris, menciptakan dinamika cinta segitiga. Film ini menyoroti perjalanan Zoya untuk belajar membuka hati sambil tetap berpegang pada ajaran agamanya, percaya bahwa cinta sejati akan datang melalui cara yang baik.
Novel "Tak Kenal Maka Taaruf" karya Mim Yudiarto, yang pertama kali diterbitkan pada tahun 2023, telah sukses menarik perhatian pembaca dan menjadi karya ke-51 sang penulis. Mim Yudiarto menulis novel ini dalam delapan hari sebagai tantangan untuk membuat romansa komedi setelah dikenal sebagai penulis thriller. Novel ini dikemas dengan bahasa yang ringan dan jenaka, serta mengandung nilai-nilai edukasi dan religi yang relevan bagi generasi Z, menunjukkan bahwa taaruf bukanlah proses yang rumit untuk menemukan pasangan hidup sesuai tuntunan agama Islam.
Para produser berharap film ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga memberikan pesan positif dan tuntunan bagi generasi muda dalam memaknai nilai-nilai luhur dalam menjalin hubungan. "Cinta sejati bukan tentang siapa yang paling cepat memulai, tetapi siapa yang paling tulus dalam menjaga kesucian dan maknanya," ungkap salah satu produser. Dengan target minimal satu juta penonton, pihak produksi bahkan mempertimbangkan untuk mengembangkan film ini menjadi sebuah serial jika respons penonton positif, dengan anggaran produksi film sekitar Rp5 miliar di luar biaya promosi.