Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Maya Abu Al-Hayyat: Mengukir Suara Pembebasan Palestina Lewat Bait Puisi

2025-11-19 | 20:31 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-19T13:31:52Z
Ruang Iklan

Maya Abu Al-Hayyat: Mengukir Suara Pembebasan Palestina Lewat Bait Puisi

Maya Abu Al-Hayyat, seorang penulis Palestina kelahiran Beirut pada tahun 1980, telah menjadi suara lantang yang menyerukan pembebasan tanah airnya melalui kekuatan puisi dan karya sastranya. Ia kini tinggal bersama keluarganya di Yerusalem, dan merupakan sosok penulis, penyair, novelis, serta penulis buku anak-anak yang produktif.

Karya-karya Al-Hayyat secara konsisten menyoroti isu-isu krusial terkait Palestina, menganyam narasi tentang identitas, kemanusiaan, dan realitas hidup di bawah pendudukan. Ia dikenal mampu menyampaikan kebenaran yang tidak nyaman tentang masyarakat Palestina dengan bahasa yang tajam, berani, dan penuh citra, mendobrak batasan-batasan bahasa Arab tradisional.

Dalam puisi-puisinya, seperti koleksi "You Can Be the Last Leaf" yang diterjemahkan oleh Fady Joudah, Al-Hayyat menggambarkan kehidupan seorang wanita di bawah rezim kolonial yang brutal, menyoroti perpecahan tajam, kerinduan sehari-hari, dan kemonotonan menunggu yang bergejolak. Ia mengeksplorasi inseparabilitas domain pribadi dan publik dalam ruang yang dibatasi dan tercekik secara paksa. Puisi-puisinya juga banyak menyentuh tema perang, seksualitas, kesepian, dan keterasingan, serta peran remaja dalam perjuangan pembebasan Palestina. Ia percaya bahwa sastra dapat menjadi penyelamat, memungkinkan pembaca memahami emosi dan hak warga Palestina untuk hidup dan memiliki negara.

Selain menulis, Al-Hayyat juga merupakan direktur Palestine Writing Workshop, sebuah lembaga yang berupaya mendorong minat baca di komunitas Palestina melalui proyek penulisan kreatif dan mendongeng bersama anak-anak serta guru. Perannya dalam literatur anak-anak juga menonjol, termasuk menulis dan mempresentasikan program televisi untuk anak-anak seperti "Iftah Ya Simsim". Ia juga seorang editor untuk antologi "The Book of Ramallah: A City in Short Fiction".

Sebagai seorang seniman, Al-Hayyat menggunakan "kebohongan" dalam seni sebagai ruang untuk menyisipkan semua yang ia ingin katakan, kebenaran mengerikan yang tidak ada yang berani mengungkapkan secara transparan tanpa risiko membahayakan diri sendiri. Karya-karyanya, termasuk novel "No One Knows Their Blood Type" dan berbagai cerita anak-anak seperti "The Blue Pool of Questions", telah mendapatkan pengakuan global dan diterjemahkan ke berbagai bahasa. Pada November 2023, ia hadir di Jakarta Content Week 2023, membawakan puisi tentang perang seperti "The Autobiography of Fear" dan "Since They Told Me My Love Won't Be Coming Back from the War", menegaskan komitmennya untuk menghidupkan Palestina melalui rajutan kata.