Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Kemunculan Perdana Salman Rushdie: Kebutaan Mata Kanan Tak Tersembunyi

2025-11-29 | 00:24 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-28T17:24:04Z
Ruang Iklan

Kemunculan Perdana Salman Rushdie: Kebutaan Mata Kanan Tak Tersembunyi

Salman Rushdie telah beberapa kali tampil di hadapan publik setelah serangan brutal pada Agustus 2022 yang menyebabkannya buta pada mata kanan dan mengalami cedera parah lainnya. Penampilannya ini menjadi sorotan, terutama dengan adanya kacamata yang dikenakannya dengan salah satu lensanya digelapkan.

Serangan terhadap Rushdie terjadi pada 12 Agustus 2022, ketika ia akan memberikan ceramah di Chautauqua Institution, New York. Seorang penyerang bernama Hadi Matar menerjang panggung dan menikamnya berkali-kali. Rushdie menderita luka tusuk yang parah di leher, dada, perut, paha, dan mata kanannya. Agennya, Andrew Wylie, mengungkapkan bahwa Rushdie kehilangan penglihatan di mata kanannya dan juga kehilangan fungsi di salah satu tangannya akibat kerusakan saraf.

Sembilan bulan setelah serangan itu, pada 18 Mei 2023, Rushdie membuat penampilan publik pertamanya yang mengejutkan di acara gala tahunan PEN America di New York City. Ia disambut dengan _standing ovation_ yang hangat. Dalam pidatonya, ia sempat bercanda bahwa "senang bisa kembali — bukan tidak kembali, yang juga merupakan sebuah pilihan," dan merasa "cukup senang dadu bergulir seperti ini." Rushdie menerima penghargaan PEN Centenary Courage Award 2023 dan mendedikasikannya untuk para "pahlawan" yang bergegas menyelamatkan nyawanya.

Pada Februari 2023, Rushdie sempat mengunggah swafoto yang menunjukkan seperti apa penampilannya setelah serangan, mengenakan kacamata dengan lensa gelap di atas mata kanannya yang tidak berfungsi. Foto ini menyertai wawancara mendalam pertamanya dengan _The New Yorker_, yang juga menampilkan potret dramatis sang penulis. Ia mengungkapkan adanya jaringan parut di sisi kanan wajahnya dan bibir bawahnya yang terkulai di satu sisi.

Baru-baru ini, pada Februari 2025, Rushdie memberikan kesaksian dalam persidangan penyerangnya, Hadi Matar, di New York. Di hadapan juri, ia menceritakan secara rinci momen-momen mengerikan saat serangan itu terjadi, termasuk bagaimana ia "menyaksikan orang ini menyerbu saya di sisi kanan saya" dan menyadari ada pisau di tangan penyerang setelah melihat darah. Ia menggambarkan lukanya sangat serius dan butuh waktu lama untuk pulih. Rushdie juga menyebutkan bahwa ia tidak ingat ditusuk di mata, tetapi ingat jatuh dan kemudian tidak tahu apa yang terjadi pada matanya. Ia juga mengungkapkan bahwa kehilangan penglihatan di satu mata "mengganggunya setiap hari" dan bahwa ketakutan terbesarnya selama ini adalah kebutaan. Pada Mei 2025, Hadi Matar dinyatakan bersalah atas percobaan pembunuhan dan penyerangan, serta dijatuhi hukuman 25 tahun penjara.

Rushdie juga telah menulis buku tentang pengalamannya, berjudul "Knife: Meditations After an Attempted Murder", yang dirilis pada tahun lalu. Dalam bukunya, ia menggambarkan penyerangnya sebagai "rudal jongkok" yang mengenakan pakaian dan topeng hitam. Ia bersyukur atas dukungan yang diterimanya dari petugas pertolongan pertama, staf medis, anak-anaknya, dan istrinya, Rachel Eliza Griffiths. Meskipun mengalami cedera yang mengubah hidupnya, Rushdie menegaskan bahwa peristiwa tersebut tidak akan membuatnya "bersembunyi di sudut".