
Pergeseran paradigma dalam dunia seni rupa semakin terlihat dengan fenomena pameran seni yang kini merambah ke ruang-ruang sakral seperti katedral, menawarkan pengalaman yang tak biasa bagi para penikmat seni. Konsep ini menantang batasan galeri seni konvensional dan membuka dimensi baru dalam apresiasi karya.
Di Indonesia, tren ini telah menunjukkan geliatnya. Di Surabaya, pameran seni lukis bertajuk "Bishop's Love Affair" karya Monsinyur Agustinus Tri Budi Utomo baru-baru ini diselenggarakan di Aula Maria, Gereja Katedral Hati Kudus Yesus. Pameran yang berlangsung dari 25 Februari hingga 23 Maret 2025 ini menampilkan 18 lukisan karya Uskup Surabaya tersebut, menjadi sarana bagi masyarakat untuk lebih mengenal pemikiran dan nilai-nilai yang diemban Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo melalui karyanya. Aktris dan presenter Olga Lydia, salah satu pengunjung, menyatakan bahwa pameran ini memungkinkan pemahaman lebih dalam tentang pemikiran uskup tersebut dan menjadi wadah untuk menyebarkan pesan cinta universal tanpa batasan agama.
Katedral Jakarta juga pernah menghadirkan instalasi seni "Hati Polyhedron", sebuah karya yang unik karena dibuat oleh anak-anak dari berbagai latar belakang agama di seluruh Indonesia. Sementara itu, Katedral Bogor turut serta dalam tren ini dengan menggelar pameran seni rupa "Via Pulchritudinis" atau "Melalui Jalan Keindahan" pada 17 Mei 2023 di Selasar Halaman BMV Katedral Bogor.
Di kancah internasional, Katedral Salisbury di Inggris menjadi tuan rumah pameran "To Be Free" yang dibuka pada 10 Mei 2023 dan berlangsung hingga pertengahan September. Pameran ini menampilkan karya seniman ternama seperti porselen dari Ai Weiwei asal China, karya tekstil "They Want to be Free 2021" oleh Jeffrey Gibson, serta "Justice for All" dari Yinka Shonibare. Pameran di katedral Anglikan yang berdiri sejak tahun 1220 ini menawarkan sensasi unik bagi pencinta seni untuk merenungkan kembali hak dan kebebasan. Katedral Santo Paulus yang ikonik di London juga akan menjadi lokasi pertunjukan cahaya dan suara spektakuler yang akan membawa pengunjung dalam perjalanan sejarah melalui bangunan gereja tersebut.
Penyelenggaraan pameran seni di katedral menawarkan sejumlah keuntungan. Selain memberikan pengalaman spiritual yang mendalam bagi pengunjung, lokasi ini seringkali memiliki arsitektur megah dan suasana hening yang dapat membangun ruang bagi setiap orang untuk merefleksikan diri. Ruang-ruang sakral ini juga berfungsi sebagai sarana edukasi dan pembelajaran bagi masyarakat, sekaligus berpotensi dalam mempromosikan kesadaran akan pelestarian warisan budaya. Namun, penggunaan katedral sebagai ruang pamer juga memerlukan pertimbangan khusus terkait pelestarian bangunan bersejarah dan karakteristik ruang sakral itu sendiri. Tren ini membuktikan bahwa seni dan spiritualitas dapat bersinergi, menciptakan dialog yang kaya dan pengalaman yang tak terlupakan bagi setiap audiens.