Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Inovasi Layar Lebar: Film AI Diprediksi Banjir Apresiasi

2025-11-28 | 17:10 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-28T10:10:01Z
Ruang Iklan

Inovasi Layar Lebar: Film AI Diprediksi Banjir Apresiasi

Kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) telah membawa revolusi signifikan dalam industri film dan televisi, mengubah cara produksi, pascaproduksi, bahkan penulisan naskah, sekaligus membuka jalan bagi apresiasi yang semakin besar terhadap karya-karya yang dihasilkan atau dibantu AI. Tren ini terlihat dari semakin banyaknya film yang mengintegrasikan AI, hingga mulai diakuinya film berbasis AI dalam ajang penghargaan bergengsi.

Salah satu indikasi paling jelas dari penerimaan yang meningkat adalah keputusan Academy of Motion Picture Arts and Sciences untuk mengizinkan film yang menggunakan AI bersaing untuk penghargaan Oscar. Aturan baru ini, yang diumumkan pada April 2025, tidak melarang film dengan AI untuk memenangkan penghargaan utama, namun tetap menekankan pentingnya peran manusia sebagai kreator utama dalam proses kreatif. Sebelumnya, film drama "The Brutalist" yang memenangkan Golden Globe 2025, telah menggunakan perangkat lunak AI bernama Respeecher untuk menyempurnakan pelafalan dialog dalam bahasa Hungaria, menunjukkan bagaimana AI dapat berkontribusi pada detail artistik yang dihargai.

Di Indonesia, fenomena ini juga mulai menunjukkan geliatnya. Usky AI Film Awards 2025 telah diluncurkan sebagai kompetisi film AI nasional pertama di Indonesia, menawarkan total hadiah hingga setengah miliar rupiah dan bertujuan untuk memunculkan kreator AI lokal berkelas dunia. Ajang ini dijadwalkan mencapai puncaknya pada Grand Final pada April 2026. Roby Busri, CMO Usky AI, menyatakan bahwa ajang ini bertujuan memperkenalkan bahwa karya berbasis AI juga memiliki nilai seni, teknologi, dan ekonomi yang tinggi. Film dokumenter Indonesia berjudul "Nusantara" bahkan dilaporkan meraih penghargaan di AI Film Festival Cannes 2025. Film Indonesia seperti "Diponegoro Hero: 200 Tahun Perang Jawa" yang digagas oleh King Bagus, produser Mars Media, juga menjadi contoh nyata penggunaan AI dalam perfilman nasional, bahkan disebut sebagai film AI terpanjang pertama di Asia. Diskusi mengenai kemungkinan Festival Film Indonesia (FFI) untuk membuat kategori khusus bagi film AI di masa depan juga telah muncul, mirip dengan bagaimana teknologi Computer-Generated Imagery (CGI) dulu diperdebatkan sebelum akhirnya memiliki penghargaan khusus untuk efek visual.

Pemanfaatan AI dalam industri film sangat beragam, mulai dari tahap pra-produksi hingga pasca-produksi. AI digunakan untuk menulis naskah, seperti yang terlihat pada film pendek "Sunspring" (2016) yang naskahnya ditulis sepenuhnya oleh AI Benjamin. Dalam produksi, AI membantu penciptaan efek visual (VFX) dan CGI yang realistis, mempercepat proses animasi, dan bahkan teknologi de-aging seperti yang digunakan dalam "The Irishman". Serial "The Mandalorian" juga memanfaatkan AI untuk efek visual dan kloning suara, termasuk suara Luke Skywalker muda. Selain itu, AI juga berperan dalam analisis data untuk memprediksi potensi keberhasilan film di box office, memahami respons penonton, dan personalisasi konten pada platform streaming.

Beberapa contoh karya yang menonjol adalah "Critterz," film animasi pendek pertama dengan visual yang sepenuhnya dibuat oleh AI DALL-E, yang kemudian dikembangkan oleh animator peraih Emmy Awards, dan "Planet Zebulon Five," sebuah dokumenter fantasi di mana semua makhluk di planet fiksi dihasilkan oleh AI. Film-film pendek seperti "The Safe Zone" dan "Zone Out" juga menunjukkan kemampuan AI generatif dalam menciptakan skenario dan visual dari prompt teks. Film Indonesia yang akan datang, "Esok Tanpa Ibu", juga mengangkat tema teknologi AI dalam narasinya dan akan berkompetisi di Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2025.

Meskipun banyak manfaat yang ditawarkan, seperti efisiensi waktu dan biaya produksi, serta potensi peningkatan kreativitas melalui ide-ide tak terduga, penggunaan AI juga menimbulkan tantangan. Kekhawatiran tentang etika, hak cipta, dan ancaman terhadap pekerjaan kreatif seperti penulis skenario, aktor, dan animator masih menjadi isu utama. Pemogokan besar-besaran oleh SAG-AFTRA dan Writers Guild of America pada tahun 2023 mencerminkan kekhawatiran ini, dengan tuntutan perlindungan terhadap penggantian pekerjaan manusia oleh AI. Para ahli menekankan bahwa meskipun AI membawa inovasi, penting untuk menjaga keseimbangan antara teknologi dan kreativitas manusia, melihat AI sebagai alat pendukung, bukan pengganti peran manusia dalam proses kreatif.