Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Film It Was Just an Accident: Menguak Luka, Trauma, dan Perjuangan Keadilan

2025-11-28 | 10:08 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-28T03:08:13Z
Ruang Iklan

Film It Was Just an Accident: Menguak Luka, Trauma, dan Perjuangan Keadilan

Film "It Was Just an Accident" karya sutradara Jafar Panahi telah memukau penonton global dengan eksplorasinya yang mendalam tentang luka, trauma, dan pencarian keadilan di tengah bayang-bayang penindasan. Film thriller Iran-Prancis-Luksemburg yang memenangkan Palme d'Or di Festival Film Cannes ke-78 pada Mei 2025 ini, mengangkat kisah mantan tahanan politik yang dihadapkan pada dilema moral untuk membalas dendam terhadap penyiksanya.

Narasi film berpusat pada Vahid (diperankan oleh Vahid Mobasseri), seorang montir mobil yang dihantui oleh ingatan pahit masa lalu sebagai tahanan politik. Suatu malam, sebuah "kecelakaan" kecil — seorang pria bernama Eghbal (Ebrahim Azizi) menabrak seekor anjing dan kemudian mobilnya mogok di dekat bengkel Vahid — memicu serangkaian peristiwa tak terduga. Vahid mengenali suara dan gaya berjalan Eghbal yang khas, terutama suara kaki palsunya yang berderit, sebagai tanda penyiksa lamanya di penjara Iran.

Vahid yang masih merasakan dampak trauma dari penyiksaan tersebut, menculik Eghbal dengan niat untuk menguburnya hidup-hidup di padang pasir. Namun, keraguan mulai menyelimutinya karena Eghbal dengan gigih menyangkal identitas tersebut, mengklaim bahwa luka di kakinya baru terjadi. Ketidakpastian ini menjadi inti dari eksplorasi film tentang luka dan trauma, mempertanyakan apakah keadilan sejati dapat ditemukan melalui tindakan kekerasan. Film ini secara cermat menggambarkan bagaimana penyiksaan telah mengubah Vahid dan korban lainnya, membuat mereka terperangkap antara keinginan untuk balas dendam dan perjuangan untuk mempertahankan kemanusiaan mereka.

Dalam pencarian identitas Eghbal, Vahid meminta bantuan dari mantan tahanan lainnya, termasuk Shiva (Mariam Afshari), seorang fotografer pernikahan yang juga pernah disiksa, serta pasangan yang bertunangan, Goli (Hadis Pakbaten) dan Ali (Majid Panahi), dan Hamid (Mohamad Ali Elyasmehr) yang berwatak panas. Kelompok ini melakukan perjalanan yang tegang dan penuh perdebatan, dengan van mereka menjadi ruang yang sesak dan penuh amarah, kebencian, serta ketakutan. Mereka dihadapkan pada pertanyaan etis yang sulit: apakah pembalasan dendam akan benar-benar menyembuhkan luka masa lalu, atau justru mengubah mereka menjadi monster yang mereka benci?

Jafar Panahi, yang sendiri telah berulang kali dipenjara dan dilarang membuat film oleh pemerintah Iran, menyutradarai film ini secara diam-diam tanpa izin resmi. Pengalaman pribadinya yang membentuk perspektif uniknya, memungkinkan Panahi untuk menyajikan kisah ini dengan kemarahan yang tenang dan presisi emosional, menjadikan film ini sebuah "manifes sinema sebagai ruang perlawanan". Film ini menyoroti dampak korosif kekerasan yang disponsori negara dan kerumitan moral dalam mencari keadilan di bawah rezim yang represif.

"It Was Just an Accident" tidak menawarkan jawaban yang mudah, melainkan mendorong penonton untuk merenungkan batas-batas pemaafan, jebakan kebencian, dan kerja ingatan yang tak kenal ampun. Dengan sinematografi yang brilian dan penggunaan long takes yang memperpanjang ketegangan, film ini menegaskan kembali status Jafar Panahi sebagai salah satu pembuat film paling tak kenal takut di sinema kontemporer. Film ini dirilis secara teatrikal di Prancis pada 1 Oktober 2025, dan di Amerika Serikat pada 15 Oktober 2025. Pengakuan internasional, termasuk Palme d'Or dan seleksi sebagai perwakilan Prancis untuk Film Fitur Internasional Terbaik di Academy Awards ke-98, menggarisbawahi relevansi universal dari pesan-pesannya tentang kemanusiaan yang terluka dan perjuangan abadi untuk keadilan.