
Kapal pesiar legendaris RMS Titanic yang tenggelam di Samudra Atlantik Utara pada tahun 1912 setelah menabrak gunung es, terus menjadi subjek perhatian dunia, dengan penemuan artefak baru dan perdebatan seputar konservasi serta status bangkainya. Tragedi yang merenggut lebih dari 1.500 nyawa ini tetap menjadi salah satu bencana maritim paling ikonik dalam sejarah.
Ekspedisi terbaru ke lokasi bangkai kapal pada musim panas 2024 oleh RMS Titanic Inc. (RMST), perusahaan yang memegang hak penyelamatan eksklusif, mengungkap kondisi kapal yang terus memburuk. Foto-foto baru menunjukkan bahwa bagian pagar di haluan kapal, yang ikonik berkat film "Titanic", telah runtuh dan tergeletak di dasar laut. Tim ekspedisi menyatakan bahwa seluruh kapal akan runtuh total seiring waktu, sebuah proses yang tak terhindarkan akibat mikroorganisme pemakan logam. Kondisi ini menimbulkan kesedihan di kalangan ilmuwan, yang menekankan urgensi untuk mendokumentasikan apa yang tersisa sebelum terlambat. Pada April 2025, pemindaian 3D bawah laut secara detail dirilis, memberikan gambaran bangkai kapal secara komprehensif dan menantang teori lama tentang bagaimana kapal itu pecah dan tenggelam. Salah satu temuan mengejutkan lainnya dari ekspedisi RMST adalah sebuah patung perunggu setinggi dua kaki, yang dikenal sebagai Diana dari Versailles, ditemukan di antara puing-puing.
Sejak tahun 1994, RMS Titanic Inc. telah diberikan hak "salvor-in-possession" oleh pengadilan federal Amerika Serikat, menjadikan mereka satu-satunya entitas yang diizinkan secara hukum untuk mengambil artefak dari situs bangkai kapal. Hingga saat ini, lebih dari 5.500 artefak telah berhasil diangkat dan disimpan oleh perusahaan tersebut. Artefak-artefak ini dikonservasi dan banyak dipamerkan di berbagai lokasi di seluruh dunia. Salah satu pameran, "Titanic: The Artifact Exhibition", menampilkan koleksi terkenal yang mencakup lebih dari 250 hingga 300 artefak asli, termasuk rekonstruksi ruangan-ruangan kapal di Las Vegas dan Orlando. Pada Februari 2024, sebuah pameran di Bristol, Inggris, memamerkan benda-benda langka yang belum pernah dilihat sebelumnya, seperti lembaran musik yang dimainkan oleh pemimpin band, Wallis Hartley, dan klakson kabut. Banyak artefak berharga ini disimpan di sebuah gudang rahasia di Atlanta, Georgia, yang lokasinya dirahasiakan demi alasan keamanan.
Namun, kegiatan penyelamatan dan ekspedisi ini tidak lepas dari kontroversi dan pertarungan hukum. Pemerintah Amerika Serikat telah menentang rencana ekspedisi baru oleh RMS Titanic Inc., terutama terkait upaya memasuki lambung kapal. Pemerintah menganggap bangkai kapal sebagai "kuburan suci" dan mengkhawatirkan kemungkinan terganggunya artefak dan sisa-sisa manusia yang mungkin masih ada. Perdebatan antara melestarikan bangkai kapal sebagai memorial yang tidak tersentuh dan mengambil artefak untuk konservasi serta edukasi publik terus berlanjut. Pada Januari 2025, sebuah misi yang direncanakan untuk menyelamatkan artefak baru terpaksa dihentikan sementara karena masalah hukum yang sedang berlangsung.
Di antara ribuan artefak yang ditemukan, beberapa memiliki kisah yang sangat mengharukan dan nilai sejarah yang tinggi. Biola milik pemimpin band, Wallis Hartley, yang dilaporkan dimainkan hingga detik-detik terakhir kapal tenggelam, merupakan salah satu artefak termahal yang pernah dilelang dari Titanic, mencapai harga 1 juta pound sterling. Pada November 2025, jam saku emas milik Isidor Straus, salah satu pemilik Macy's, terjual dengan rekor hampir Rp39 miliar dalam lelang di Inggris, dengan jarum jamnya berhenti pada pukul 02:20, waktu tenggelamnya kapal. Artefak lain yang telah menarik perhatian publik termasuk kalung emas dengan gigi hiu megalodon yang ditemukan pada tahun 2023, fragmen kursi geladak, serta berbagai perhiasan seperti cincin berlian dan safir, bros, dan kalung. Sebuah tas tangan buaya milik penumpang kelas tiga Marian Meanwell, yang ditemukan masih berisi foto dan surat rekomendasi yang menyayat hati, juga menjadi bukti nyata kehidupan yang hilang dalam tragedi tersebut. Benda-benda personal lain seperti menu makan siang kelas satu terjual sekitar USD 90.000 (sekitar Rp1,4 miliar), sementara sehelai biskuit dari kapal itu laku sekitar Rp313 juta, dan surat penumpang mencapai Rp2,2 miliar. Artefak-artefak ini terus menjadi jembatan emosional antara masa lalu dan masa kini, mengingatkan akan kemewahan, inovasi, dan tragedi mendalam dari pelayaran perdana RMS Titanic.