
Dua tim arsitek Prancis tengah memberikan dukungan krusial dalam upaya pemulihan Museum Nasional Indonesia (MNI) pasca-kebakaran hebat yang melanda gedung tersebut pada 16 September 2023. Kebakaran tersebut dilaporkan dimulai di Gedung A dan menyebar ke lima ruangan lainnya, termasuk galeri dan koleksi prasejarah, perunggu, terakota, dan keramik.
Kedutaan Besar Prancis di Indonesia telah mendelegasikan dua ahli arsitektur, Cédric Trenesaux dan Frédéric Martorello, untuk membantu proses restorasi. Trenesaux dan Martorello dikenal karena spesialisasi mereka dalam pelestarian dan rekonstruksi monumen bersejarah serta bangunan warisan, dengan pengalaman luas dalam menangani kerusakan pasca-kebakaran pada bangunan bersejarah, termasuk restorasi Katedral Notre-Dame di Paris pada tahun 2019.
Para ahli ini bekerja sama dengan pihak MNI untuk menilai integritas struktural bangunan museum yang terdampak dan memastikan stabilitas struktur guna mencegah kerusakan lebih lanjut. Mereka juga membantu dalam menyusun rencana pemulihan jangka pendek dan jangka panjang. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya (BLU MCB), Ahmad Mahendra, menyampaikan apresiasinya atas dukungan tersebut dan menekankan komunikasi serta diskusi intensif yang terus dilakukan dengan tim ahli.
Hingga akhir Oktober 2023, sebanyak 703 artefak berhasil diidentifikasi, dengan 694 di antaranya telah diklasifikasikan dan sedang menjalani uji sampel serta analisis di Balai Konservasi Borobudur. Secara keseluruhan, sekitar 817 koleksi dilaporkan rusak akibat kebakaran.
Museum Nasional Indonesia telah ditutup selama setahun pasca-kebakaran. Setelah melalui renovasi ekstensif, modernisasi fitur, dan digitalisasi koleksi, MNI resmi dibuka kembali untuk umum pada 15 Oktober 2024. Proses revitalisasi ini diperkirakan akan berlanjut setidaknya selama tiga tahun ke depan. Sebagai bagian dari pembukaan kembali, museum menghadirkan pameran pasca-kebakaran bertajuk "Menabuh Nekara Menyiram Api," yang menampilkan koleksi terdampak dan proses revitalisasi. Selain itu, museum juga memamerkan koleksi repatriasi baru.
Kerja sama ini merupakan bagian dari kemitraan budaya yang lebih luas antara Indonesia dan Prancis, yang mencakup pengembangan museum, digitalisasi arsip, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan pencegahan pergerakan ilegal benda budaya, yang diperkuat melalui penandatanganan Nota Kesepahaman dan kemitraan strategis pada Mei 2025.