Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Bedah Tuntas Lukisan Abstrak Nunung WS

2025-11-26 | 23:07 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-26T16:07:35Z
Ruang Iklan

Bedah Tuntas Lukisan Abstrak Nunung WS

Nunung WS, pelukis perempuan kelahiran Lawang, Jawa Timur, pada 9 Juni 1948, telah mengukir jejak lebih dari enam dekade dalam dunia seni abstrak Indonesia, menjadikannya salah satu seniman seni geometris abstrak paling penting di Asia. Konsistensinya dalam berkarya menjadikan Nunung sebagai satu-satunya pelukis perempuan di Indonesia yang secara konsisten menjadi pelaku seni abstrak dan masih aktif hingga kini.

Perjalanan seni Nunung WS dimulai pada tahun 1967 saat ia belajar di Akademi Seni Rupa Surabaya (AKSERA). Meskipun sang ayah berharap ia kuliah agama, Nunung memilih jalan seni, terinspirasi oleh Kartika Affandi. Di bawah bimbingan Nashar, Nunung bertransisi dari ekspresionisme dinamis menuju eksplorasi bidang warna yang lebih reflektif dan meditatif. Warna menjadi medium terpenting baginya untuk berekspresi secara total, melampaui batasan bentuk yang kasat mata dan masuk ke dunia transendental.

Karya-karya Nunung WS seringkali menampilkan garis-garis geometris dan bidang warna yang kaya, merefleksikan kontemplasi dan pengalaman spiritualnya dengan alam dan dunia batin. Ia berusaha menginternalisasi dan mengabstraksi bentuk untuk melihat apa yang ada di baliknya, menciptakan lukisan yang membangkitkan mimpi dan emosi alam bawah sadar. Salah satu karyanya yang menonjol adalah lukisan sepanjang 10,5 meter berjudul "Verzon", yang dibagi menjadi tujuh panel, terinspirasi dari garis vertikal dan horizontal yang ia lihat di Candi Borobudur.

Sepanjang kariernya, Nunung telah berpameran di berbagai negara seperti Belgia, Belanda, Jepang, Malaysia, dan tentu saja di Indonesia. Pada tahun 1993, ia bahkan menjadi dosen tamu di Academie Minerva Groningen, Belanda. Dedikasinya terhadap seni abstrak diakui melalui berbagai penghargaan, termasuk penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta (1978), Ford Foundation's Indonesia Women Artist's Program di USA (1992), penghargaan karya terbaik "Krida Wanadya" dari Menteri Negara Urusan Peranan Wanita RI (1994), serta Lifetime Achievement Award dari Biennale Jogja (2021). Pada tahun 2020, empat karyanya yang berukuran besar juga terjual dan dikoleksi museum di Museum Mori, Tokyo, Jepang, saat ia berpameran bersama 16 perupa perempuan dari berbagai bangsa.

Baru-baru ini, pada Juni 2023, Galeri Nasional Indonesia bekerja sama dengan D Gallerie menggelar pameran retrospektif tunggal Nunung WS bertajuk "The Spirit Within (Jiwa dalam Manunggal)" di Jakarta. Pameran ini menampilkan setidaknya 31 lukisan, termasuk karya lama dan baru yang diciptakan antara tahun 2020 hingga 2023, menunjukkan perkembangan berkelanjutan dan konsistensi artistiknya selama lebih dari 50 tahun berkarya. Kurator pameran, Chabib Duta Hapsoro, menyebut Nunung WS sebagai satu-satunya perempuan seniman di Indonesia yang mengeksplorasi bidang warna dalam karyanya, menyumbangkan khazanah visual seni abstrak Indonesia.

Selain itu, pada Januari 2024, Nunung WS berkolaborasi dengan Cita Tenun Indonesia (CTI) dan D Gallerie dalam pameran bertema tenun berjudul "FASET: Estetika Tenun dalam Modernitas Seni". Dalam pameran ini, ia menampilkan lukisan abstrak yang terinspirasi oleh dimensi dan warna tenun Indonesia, menyoroti keunikan visual dan makna budaya tenun. Kisah hidup dan perjalanan artistik Nunung WS juga telah dibukukan oleh D'Gallerie dan Adhvan Media.

Kontribusi Nunung WS terhadap seni abstrak di Indonesia sangat signifikan. Ia terus berkarya dengan jujur dan apa adanya, menjadikan warna sebagai fokus utama ekspresinya, yang berakar pada semangat spiritual dan transendental berlandaskan religi, mistik, dan magis. Melalui karya-karyanya, Nunung WS tidak hanya mengajak penikmat seni untuk menikmati karyanya secara visual, tetapi juga untuk memahami proses kontemplasi dan eksplorasi batin yang mendalam.